Ketika Rasa Sakit Menjadi Indah

21 May 2013

Hari itu aku benar-benar tipis volume dompetku. Betapa tidak, baru dua bulan lalu istriku masuk rumah sakit karena harus operasi, sebulan kemudian anakku pindah sekolah dan aku sedang renovasi rumah yang sudah tiga bulan belum kelar juga dan hingga akhirnya aku stop saja dulu karena badgetnya sudah jauh melampaui rencana anggaran. Dan kau tahu apa yang aku alami saat itu?

Badanku sudah tiga hari menggigil kedinginan yang tak terhingga, kepala pusing dan untuk berdiri walau sesaat rasanya sempoyongan. Istriku berulang kali menyarankan untuk kedokter, tapi aku pikir hanya masalah tensi saja yang sedang tinggi, seperti beberapa hari yang lalu. Tapi karena besok pinginnya bisa berangkat ngantor makanya akupun menyerah juga mau ke dokter.

Astaga, ternyata hasil pemeriksaan aku dicurigai terkena demam berdarah (DB), meski belum ada bintik merah namun kulitku sangat merah semua waktu itu. Akupun langsung dirujuk ke rumah sakit dan disarankan langsung ke ICU. Benar saja trombositku saat itu tinggal 7.500 sel per millimeter kubik saja, padahal harusnya angka normalnya adalah pada kisaran 150.000 400.000. Hah!

Aduh kawan, kau tahukan, masuk rumah sakit itukan harus deposit uang dulu baru diurusin, apalagi kartu askesku tak berlaku di rumah sakit swasta itu. Oya satu hal lagi yang lupa aku certain. Begitu divonis harus opname rumah sakit aku binggung karena duitku benar-benar minim saat itu, tapi untunglah teman kantor yang aku telepon tidak saja mau mengantarku ke rumah sakit tapi ternyata juga meminjamkan uangnya untuk deposit agar bisa segera dirawat.

Aku sedang konsen harus sembuh saja dulu, saat itu sehingga berbagai surat pernyataanpun aku tanda tangan saja, termasuk semua perlakuan medis apa saja aku iyakan saja, yang penting aku bisa segera sembuhtermasuk juga rontgen paru-paru segala (lha apa hubunganya DB sama rontgen paru-paru?).

Setelah digelontor invus dua botol secara bersamaan dan juga gelontoran berbagai obat pusingku sudah lumayan reda meski kalu bangun masih sempoyongan juga. Tapi begitu pusing yang itu berkurang, munculah pusing yang lain yah tahulah pusing mikirin bayarnya! (klise bo!!). Tiap hari aku selalu tanda tangan kesediaan obat dan itu nilainya mencapai satu jutaan per hari rata-rata. Duitnya sapa lagi saudara jauh semua!!

Istri tidak bekerja, sehingga full akulah yang harus memikirkan uangnya nanti, tapi justru dialah penenangku “Udahlah gak usah dipikiran berat, toh hidup sudah ada yang ngatur”. Terus terang kalau bukan istriku pasti aku sanggah, tapi sebagai kepala rumah tangga, aku harus tegar juga menyimak kata-kata itu secara bijak.

Malam harinya aku mencoba merenungi, kalau dipikir sulit toh akan lebih berat lagi penderitaanku, mau ikhlas gak ikhlas tetap harus bayar juga kan? Namun kalau ikhlas aku bisa dapat hikmahnya. Ketika tengah malam tiba setelah sholat malam sebisanya,akupun mencoba berkata dengan penuh perasaan,” Ya Allah aku ikhlas menerima cobaanMu ini, segala ujian adalah dariMu dan Engkau pula yang tahu jawaban dari ujian ini.”

Kupejamkan mataku, entah karena kurang darah aku melihat bintik-bintik cahaya diantara gelapnya mata terpejam (seperti kunang-kunang). Namun kawan, sungguh yang aku rasa saat itu aku melihat bintang-bintang di angkasa, aku merasa kecil persoalanku dibanding rumitnya jagat raya ini. Bermilyar bintang, planet, asteroid, komet dsb Allah ciptakan dan memeliharanya semua benda langit itu sehingga selalu dalam garis edarnya. Belum lagi milyaran makhluk penghuninya, manusia, hewan dan tanaman semua dijamin rejekinya Betapa kecil persoalanku, betapa malunya aku jika tidak percaya pada pertolongan-Nya. Aku pasrahInnalilahi wa inailaihi rajiun

Pagi harinya hariku jadi lebih indah, aku merasa bahagia ketika teman-teman kantor, tetangga, jemaah pengajian, ibu-ibu RT sebelah dan juga adik-adik ipar beramai-ramai datang menjenguk dan mendoaakanku. Mereka tidak hanya yang aku kenal, atau teman dekat, bahkan orang yang habis menengok saudaranya yang dirawat disitu juga menyempatkan menengokku sambil mendoakan, mantan atasanku yang sudah lama pensiun pun juga menyempatkan datang juga, wow betapa bahagianya aku saat itu. Dan singkat cerita kawan ternyata para penjengguk itu juga membawa amplop yang jumlahnya memang cukup untuk membayar biaya rumah sakitku selama tujuh hari aku di sana, Alhamdulillah, Thank you my God.


TAGS sakit demam berdarah rumah sakit sakit itu indah


-

Author

Seseorang yang ingin berbagi pengalaman atau ide lewat tulisan

Follow Me