Kita Butuh Ustadz Gaul

27 Apr 2013

Inalillahi wa inailaihi rojiun Saya turut berduka ketika mendengar berita kepergian Ustadz Jeffry Al Buchori beberapa hari yang lalu. Berita kepergianya cukup mendominasi hampir semua media massa yang ikuti. Pembicaraan di kantor, di rumah, para tetangga pun membahas tentang kematian mengejutkan seorang ustadz dengan begitu banyak penggemar itu.

Satu hal yang cukup unik pada diri beliau adalah sebutan sebagai ‘ustadz gaul’. Aku cukup tergelitik dengan sebutan ini dan secara pasti tidak tahu apa yang dimaksud dengan istilah ‘gaul’ ini sesungguhnya. Di kamus istilah gaul diartikan sebagai berteman atau bersahabat. Namun dalam istilah sehari-hari kata gaul sering diartikan sebagai mengikuti perkembangan sekitarnya (masyarakat kebanyakan) atau kebalikan dari istilah ‘kuper’ (kurang pergaualan). Jika ada pengertian gaul selain itu aku kurang paham..

Dalam pengertian seperti itu, maka orang yang gaul artinya orang yang bisa mengerti dan beradaptasi terhadap keadaan sekitarnya. Misalnya saat ini trend kemajuan teknologi begitu cepat, orang yang gaul berarti mengerti dan dapat mempergunakan gadget-gadget yang popular di masyarakat. Dalam kehidupan sosial orang gaul dapat pula diartikan sebagai orang yang tidak hidup secara eksklusif dan bisa bersosial dengan kebanyakan orang.

Kalau menurutku sih, contoh gampang yang aku maksud dengan gaul ini, seperti Pak Jokowi , beliau itu contoh pejabat yang gaul, bisa masuk lingkungan pejabat (hingga presiden) namun tetap akrab juga dengan warga di pelosok gang sempit, tidak canggung apalagi eksklusif membatasi pergaulan.

Nah kembali ke laptop judul di atas, Mengapa kita butuh seorang ustadz yang gaul? Jawabnya simple aja.. Ustadz itu adalah penyampai ajaran Tuhan, membimbing orang ke jalan kebenaran jadi harus bisa ke semua kalangan dong. Jujur saja aku sangat berat untuk menulis tentang ini, karena aku belum pernah mondok seharipun dalam hal mendalami ajaran Islam secara formal. Namun dari bacaan yang sempat aku baca, kita ketahui Rasulullah adalah seorang yang bersosial secara ‘biasa saja’.

Rasul menjalani kehidupan sebagai penggembala kambing, pedagang, menyuapi orang tua buta (walaupun Yahudi), ikut bergotong royong dengan warganya (ketika membuat parit) dan memanggil para muridnya / pengikutnya dengan sebutan sahabat. Tak ada eksklusifme di sana.

Contoh lain tentang ustadz gaul yang sukses adalah Sunan Kalijaga. Sebagaimana kita tahu, tokoh kita ini, walaupun diakui dalam tingkatan wali, tetap saja berpenampilan dengan busana jawanya, berdakwah dengan sarana budaya populer saat itu (wayang , gemelan, tembang dsb). Hasilnya? Begitu banyak kalangan yang tadinya melawan kini jadi pengikut di jalanya.

Kita boleh berbeda pandangan untuk hal satu ini. Karena itu aku tetap menghormati para ustadz yang hidup secara eksklusif, membatasi pergaulan dan menutup diri dari pendapat lain. Namun hal pasti yang kita sepakati adalah bahwa ajaran kebaikan tetap harus disampaikan kepada siapapun dan dengan cara yang baik pula (mauidhoh hasanah).

Namun saat ini kehidupan semakin mengarah kepada spesialisasi tertentu karena itu perlu adanya ustadz-ustadz gaul di lingkungan yang beragam pula. Jadi kita perlu ustadz gaul di kalangan anak muda, kita perlu ustadz gaul di kalangan anak-anak, kita perlu ustadz gaul di kalangan ibu-ibu, kita perlu ustadz gaul di kalangan kantoran, kita perlu ustadz gaul di kalangan tradisional, kita perlu ustadz gaul kalangan manapun. Namun tentu saja ustadz gaul yang mewarnai bukan yang terwarnai


TAGS ustad gaul ustadz gaul mauidhoh hasanah uje jeffry al buchori


-

Author

Seseorang yang ingin berbagi pengalaman atau ide lewat tulisan

Follow Me