Haruskah Menjadikan Anak Sebagai Juara?

9 Apr 2013

Ihsan (berkaos merah) sedang ikut lomba

Ihsan (berkaos merah) sedang ikut lomba

Ihsan, anakku kelas TK B sejak Desember lalu pindah sekolah, mengikuti ibunya yang kembali sekota denganku. Di sekolah barunya Ihsan ternyata cukup mengejutkan gurunya, karena ternyata dalam pelajaran mewarnai, sangat bagus pilihan warnanya dan bahkan bisa mewarnai gambarnya menggunakan gradasi warna (he, he.. terang aja ketika di Semarang diakan ikut les melukis).

“Aduh Bu, Ihsan telat, nih sekolah di sininya. Baru aja bulan lalu ada lomba mewarnai “Kata Bu Guru kepada istriku ketika itu. Karena dianggap bagus gambar hasil mewarnai Ihsan sering ditunjukan ke depan kelas kepada teman-temannya, “Coba lihat anak-anak ini siapa yang mewarnai?” Tanya Bu Guru. “Bu Guru!!!” jawab ana-anak.” Bukan ini yang buat, Ihsan”

Sesuai janji Bu Guru, ketika ada lomba Ihsanpun diminta ikut. Persiapan sudah mantap dilakukan, berbagai latihan sudah dilaluinya. Namun sayang tiga hari sebelum lomba Ihsan justru sakit. Dan akhirnya walau sudah sembuh dan ikut lomba, Ihsan tak menyabet tropi juara, karena ternyata gambarnya tidak selesai ia kerjakan

Tiga minggu kemudian sebuah Mall di Serpong, Tangerang dengan sponsor arena bermainya, menggadakan lomba dan kali ini Ihsan meraih juara kedua untuk lomba mewarnai (dan juara satu lomba lari bendera). Bu Gurupun cukup puas dengan rekomendasinya, begitupun kami. Minggu berikutnya Ihsan diikutkan lagi lomba mewarnai di Mal yang sama, tapi ternyata tidak bisa meraih juara. Selidik punya selidik, ternyata gambar yang diwarnai kali itu adalah gambar ikan dan Ihsan rupanya kebingungan pilih warna karena selama ini latihanya selalu obyek di darat

Minggu berikutnya bukan lagi sekedar mewarnai tapi lomba melukis dan oleh sekolah Ihsan kembali dikirim untuk mewakili kecamatan untuk lomba tingkat kabupaten. Dan info yang kami dapat ukuran kertasnya 40 x 60 cm!(mungkin A2 yang dimaksud, ukuran A2: 42 x 59,4 cm ) Waduh! sanggupkah anakku menggambar segede itu? Latihan kilatpun kami lakukan secara bertahap dari menggamabar di kertas A4, A3 dan baru A2.

Hati kecilku mulai bimbang merasa berat, kalau anakku harus berturut-turut ikut lomba, sehingga jelas waktu latihanya menyita banyak waktu bermain dan kebebasanya. Dilain pihak aku merasa bersyukur karena Ihsan dapat perhatian, dan aku harus ikut mendukung sekolah dalam hal pengembangan bakatnya. Aku dalam dilema, begitupun istriku..

lukisan ihsan saat latihan

lukisan ihsan saat latihan

Berhubung harus setor gambar hasil-hasil latihan ke sekolah, terpaksa jam nonton TV Ihsanpun kami pangkas lagi, agar ia bisa konsen merampungkan tugasnya. Ihsan sebenarnya anak penurut dan mau latihan menggambar, tapi ya ampun lambat banget dia merampungkan gambarnya. Satu hari hanya satu gambar dia bikin, padahal waktu lomba hanya disediakan selama dua jam nantinya.. Untuk memaksanya menggambar hingga mewarnai dalam dua jam tak tega rasanya kami lakukan. Berbagai motivasi sudah aku lakukan agar lebih cepat kerjanya, tapi mungkin karena masih kecil sehingga tetap saja lelet dia.

Bagiku ini benar-benar dilematis. Sebenarnya aku gak suka-suka amat kompetisi. Misalnya aku lebih senang anakku jadi pengurus kelas daripada mengejar rangking kelas. Aku lebih suka kebersamaan daripada persaingan. Ya.. aku lebih suka menekankan empati kepada kawan daripada kompetisi. Berkompetisi memang terkadang baik dilakukan, namun tetap saja ada sisi negatif yang aku kuatirkan. yaitu terbiasa melihat orang lain sebagai pesaing yang harus dikalahkan. Inilah yang aku muak lihat di masyarakat!

Pada pelaksanaan Pilkada misalnya, yang ada selain kelompok kita adalah musuh. Wajar saja bila dalam pilkada sering sekali kita temui kampaye hitam saling ejek antar peserta. Pokoknya harus menang, atau menang ya.. paling tidak menanglah Dan bila ternyata kalah, lantas memprovokasi massa hingga timbul kebencian antar pendukung, perusakan fasilitas umum, dan sebagainya. (Naudzubilah..)

Kembali ke persiapan Ihsan, di dalam kegalauan aku tetap mendukung upaya sekolah, aku latih saja sesuai mood Ihsan. Berusaha memotivasinya agar tak merasa tertekan dan berangkat lombapun kami mengantarnya. Dan hasilnya Alhamdulillah bisa meraih juara tiga. Walaupun kata ibunya gambarnya tak sebagus ketika latihan di rumah gak ada gambar pohonya dan gradasi warna langitnya terbalik (mungkin dah bosen kali disuruh gambar mulu).

Thanks Ihsan I love you.

Ku harap kau tahu lomba bukan ajang saling mengalahkan tapi sekedar, mengukur kemampuan


TAGS juara lomba lukis kompetisi empati


-

Author

Seseorang yang ingin berbagi pengalaman atau ide lewat tulisan

Follow Me