Gara-gara Polisi Tidur

11 Jan 2013

polisi-tidurIni bukan persoalan polisi yang kecapaian hingga tertidur, juga pula polisi yang ketiduran ketika menjalankan tugas. Ini adalah soal gundukan yang sengaja dibuat di jalan untuk mengingatkan agar para pengendara berjalan pelan-pelan. Aku sendiri tidak tahu mengapa gundukan seperti itu dinamain polisi tidur, padahal bentuknyapun tak ada mirip miripnya dengan pak polisi yang sedang bobo.

Ya, gara-gara gundukan itulah tetangga kami saling gondok. Sebut saja mereka Pak Sastro dan Pak Agus (nama samaran). Mereka tinggal di satu komplek perumahan. Pak Agus di sektor satu sedangkan Pak Sastro di sektor lima. Untuk akses masuk dan keluar warga sektor lima harus melewati sektor satu sehingga sebenarnya jalan utama sektor satu juga milik warga sektor lima juga. Jalan utama itu memang sepakat dimiliki bersama semua warga, karena itulah ketika jalan utama tersebut dicor beton, warga sector satu dan lima patungan dan kerja bakti bersama.

Jalanan yang tadinya banyak berlobang kini sudah mulus dan tentu saja enak buat jalan dan bisa lebih cepat dilewati. Tak semua orang bisa jalan pelan ketika berkendara, ada yang buru-buru berangkat ataupun pulang, ada yang senang menikwati kendaraan yang memang enak jika melaju kencang ada juga yang memang suka gaya-gayaan (lah kalau jalanya pelan-pelan ngapain naik kendaraan? Begitu dalil mereka).

Singkat cerita warga sector satu yang rumahnya berada di jalan utama tersebut menjadi tidak nyaman, takut anaknya tertabrak mobil atau motor yang melintas kencang di depan rumah mereka. Sebagai solusi Pak Agus berinisiatif membuat polisi tidur di jalan itu. Para tetangga mendukung (meski tidak semua) bahkan karena saking geramnya jumlahnya pun cukup banyak ada lima buah dalam jarak yang cukup berdekatan, sekitar tiap 50 meteran dibuat polisi tidur.

Polisi tidur itu dibuat malam hari, tanpa pemberitahuan ke warga, sehingga pagi harinya banyak orang yang kaget karena tiba-tiba terhalang gundukan, beberapa orang pengendara motor bahkan terjatuh karena tingginya gundukan itu! Seketika itu heboh polisi tidur menjadi topic panas yang banyak dikomentari, dicaci bahkan diprotes.

Kita ini kan orang berpendidikan, buat saj tulisan : JALAN PELAN-PELAN kita sudah tahu kok

Iya jaraknya juga kira-kira dong!

Ketinggian juga tuh, masak motor maticku sampai nyangkut tiap lewat

Segala bentuk protes tidak merubah apa yang sudah dibuat, semen sudah kering dan paling ntar kebiasa juga lewat jalan gituan, mungkin itu pendapat para founding father polisi tidur itu. Merasa keluhannya tidak digubris Pak Sastro memiliki cara protes yang berbeda. Tiap kali lewat jalanan itu dengan sengaja justru melaju kencang dengan mobilnya. Bahkan ketika ada anak kecil di jalanan tanpa menginjak rem bunyi klaksonlah yang dinyalakan TetTet..Teettt!! Pak Agus tambah gusar, tak saja polisi tidur, kini ditambahlah drum besar diletakan di tengah jalan. Pak Satro yang biasa ngebut kini agak kesulitan dan mobilnyapun terperosok ke dalam selokan.

Tapi bukanlah Satro kalau menyerah, justru mobilnya yang terperosok dicuekinya ditinggal pulang jalan kaki dengan santainya. Jalanan jadi macet, warga terhalang, tapi memarahi Pak Sastro pun tak ada yang berani, bahkan sebagian membenarkan tindakanya, sesuai sudut pandang masing-masing. Dan baru pada malam harinya anak buah Pak Sastro beramai-ramai menarik mobil itu dan membawanya pulang.

Para pengurus RW kedua sector pun berembuk, dan dicapai kesepakatan bersama yaitu polisi tidur tetap ada, namun dilandaikan dan diperlebar agar motor matic tidak tersangkut. Karena itu merupakan jalan bersama sehingga, ke depan, setiap permasalahan juga harus dibicarakan dan diputuskan bersama. Malam berikutnya, diadakanlah kerja bakti bersama melaksanakan keputusan itu. Dan kabar baiknya kawan Pak Sastro tetaplah memainkan peran tokoh kebaikan, karena semua material untuk keperluan kerja bakti itu dialah yang menanggung


TAGS polisi tidur jalanan komplek


-

Author

Seseorang yang ingin berbagi pengalaman atau ide lewat tulisan

Follow Me