Bunuh Dirikah? (Potret Suram Dunia Pendidikan Kita)

9 Dec 2012

mari bersihkan

mari bersihkan

Tetanggaku ini sebut saja namanya Pak Sabar (bukan nama sebenarnya), rupanya memang harus banyak bersabar. Meski ijazah SMA ia miliki, namun dia harus menjalani profesi sebagai seorang tukang bangunan. Anaknya ada lima orang, empat laki-laki dan yang bontot seorang cewek mungil yang masih balita. Anak pertamanya yang sudah lulus SMU sudah kerja di sebuah pabrik.
Aku cukup hafal, rasanya tiap menjelang ujian anaknya selalu mendapat teguran dari sekolah, tidak bisa mendapat kartu ujian karena masih ada tunggakan uang sekolah yang belum dibayar. Bahkan yang sudah kerjapun, hingga saat ini ijazahnya masih ditahan di sekolahnya karena masih banyak tunggakan yang belum terbayar.
Lho bukanya sekolah gratis? Betul secara teori memang gratis kawan, ada dana BOS segala tapi hal itu tak dinikmati semua orang di negeri yang melimpah sumber alamnya ini. Yah contohnya anaknya Pak Sabar ini, seperti halnya para pembaca, tetanggaku inipun mengajukan pertanyaan yang sama, kan katanya gratis? Tapi dengan penuh kesabaran dan seabreg argument pihak sekolah negeri itupun bisa berdalih, untuk gaji guru honorer, untuk kegiatan kurikuler, pelajaran ketrampilan, praktek computer dan lain-lain dan sebagainya.
Pada hari Sabtu pagi Omi (nama samaran juga), anak kelas tiga SMP, dari bangun tidur sudah protes ke kakaknya yang sudah kerja karena tidak peduli dengan tunggakan bayaran sekolahnya, padahal hari senin nanti ada ujian semester dan dia belum bisa mendapat kartu ujian. Udah, aku mau pergi jauh aja, aku sudah bosan kalau begini terus-terusan
Sang ibu rupanya berhasil sedikit menenangkan sehingga berangkatlah ia bersama anaknya yang bungsu ke ATM untuk mengambil uang dan segera ke sekolah agar bisa ikut ujian hari senin nanti dengan meminjam motor tetangga. Katanya sudah tiga ATM dia datangi, namun itu uang tak juga keluar (atau memang saldonya tidak ada, aku tak berani mengorek lebih jauh) dan karenanya, rencana ke sekolahpun menjadi gagal dan pulang tanpa membawa hasil. Meledaklah kembali si Omi dan diapun bilang lagi akan pergi jauh dan mengajak adiknya.
Pergi jauhkah si Omi? Tidak! Tujuan mereka hanyalah sejauh sekitar seratus meter atau lebih dikit dari rumahnya. Tempat itu sebuah galian saluran air yang belum selesai namun penuh terisi air lantaran hampir tiap hari diguyur hujan. Di tempat itu dia sering berenang bersama adik juga teman-teman lainya. Tapi saat itu mereka hanya berdua. Mendekati pukul 12 siang sang adik pamit pulang duluan lantaran sekolahnya masuk siang. Omi pun tinggal seorang diri di tempat itu, mengantar kepamitan adiknya pulang, sang kakak justru yang berucap Dadah adik kakak mau pergi jauh, dadah adik kakak mau pergi jauh dengan polosnya adiknya yang masih kelas tiga SD pun membalas lambaianya dan pulang ke rumah.
Sepulang kerja Pak Sabar kaget dilapori istri kalau sore itu Omi belum pulang ke rumah. Sore itu hujan kembali turun dengan lebatnya, Pak Sabar datang ke rumahku, meminjam payung untuk menjemput anaknya. Tapi hingga Maghrib tiba si anak belum juga kembali. Pak coba tanyain ke teman-temannya, mungkin dia ada di sana, kan dia lagi marah, paling sengaja mumpet agar dapat perhatian orang tuanya Saranku kepanya. Enggak Pak saya sudah tanyain, lagi pula dia tuh pergi gak pakai sandal, celanapun cuma pakai celana kolor doang, kalau dia rapi pasti dia ke rumah Neneknya, saya hapal Pak, dia itu kan anaknya suka nekat!
Sore itu kebetulan sebuah mobil pengangkut material keperosok di selokan tepat depan rumahku sehingga aku lebih konsen membatu mengeluarkan mobil itu daripada membantu Pak Sabar yang kelihatan banget ekspresi kebingungannya dan firasat kuat akan hilangnya Si Omi. Hingga hampir setengah Sembilan malam diantar rentik hujan mobil yang terporosok akhirnya berhasil keluar dan hasilnya aku yang sudah kelelahan dua hari kemarin kurang tidur jadi teller, pilek plus terbatuk-batuk, daripada lebih parah akupun memilih tidur lebih awal agar segera kemabli fit.
Adzan Subuh sayup-sayup berkumandang, aku keluar rumah untuk pergi ke masjid. Masya Allah ada sederet kursi menghalangi jalan di depan rumah Pak Sabar, aku langsung bisa menebak pasti Omi telah meninggal karena tenggelam. Sepanjang jalan ke masjid aku menyalahakan diri karena tidak menemani Pak Sabar mencari anaknya
Singkat cerita kawan, ternyata malam itu para tetangga berpencar mencari Si Omi. Hhingga pukul satu malam baru ketemu, jenazahnyadiangkat dari galian selokan air dengan susah payah dan dibawa pulang dengan dimasukan kantong mayat dari kepolisian.
Tenggelamkah Si Omi? Aku tak berani bercerita ini kepada tetangga lain, namun via telepon kepada istriku di Semarang aku berani menduga ada kesengajaan pada kasus ini. Alasannya, sejak pagi dengan nada marah dia sudah bilang akan pergi jauh dan tak tahan lagi dengan keadaan. Kedua.. kata ayahnya, Omi kalau berenang hanya pakai celana dalam Dia tuh cuek Pak, anaknya sementara itu dia ditemukan dalam keadaan berpakaian lengkap. Alasan ketiga adalah, biasanya jika orang tenggelam badanya akan terapung, kenapa ini begitu susah diangkatnya. Galian selokan dekat rumah kami itu, aku tahu persis hanyalah galian tanah baru, tanpa ada pusaran air, tak ada karang ataupun benda lain yang bisa membuatnya tersangkut di dalam.
Pagi itu aku melihat jenazahnya sudah dikafani rapi sehingga aku bisa melirik ada tidaknya luka lebam di kakinya (padahal biasanya jika ada tetangga atau kerabat meninggal aku turut memandikan jenazahnya). Saat itu polisi sudah menjalankan standar bakunya, untuk melakukan otopsi namun sang orang tua menolak dan sudah menyatakan ini murni kecelakaan.
Jika saja diantara pembaca adalah seorang guru ataupun pengelola sekolah, renungkan cerita ini. Ini hanyalah sepenggal dari sekian banyak anak frustasi karena bidang pendidikan yang dikomersialkan. Pendidikan adalah medan untuk pengabdian dan investasi amal jariah, mencerdaskan anak bangsa. Anak-anak sekolah bukanlah obyek mencari proyek, orang tua siswa bukanlah sapi perahan yang pasti nurut karena posisinya yang lemah, Jika Anda tak sanggup menjadi mulia dengan ikhlas berbagi ilmu, berbisnislah saja di bidang lain baik sebagai sambilan ataupun total alih profesi. Pemerintah sudah menggariskan pendidikan gratis tingkat SD-SMP (negeri), sekolah tidak boleh menjual seragam sekolah, buku-buku paket, bahkan sudah ada alokasi dana untuk pembangunan gedung.
Mari renungi kisah di atas, dengarkan kata hati, mari kita perbaiki diri sebelum balasan yang pasti datang menyengsarakan kita..


TAGS bunuh diri pendidikan tenggelam


-

Author

Seseorang yang ingin berbagi pengalaman atau ide lewat tulisan

Follow Me