Anakku Nyontek tapi Aku Tersanjung

20 Oct 2012

at wonosobo

at wonosobo

Eit.. sabar dulu kawan don’t judge this story by the title.. ojo su’u dzon, jangan terburu memvonis diriku sebelum Anda selesai membaca tulisan ini. Ini adalah perasaanku yang jujur atas ‘musibah’ yang menimpa anakku kemarin. Begini ceritanya… (‘Adegan ini bukan untuk ditiru’, begitulah bunyi running text di layar tv Anda seandainya tulisan ini disenitronkan nanti….).

Berulang kali aku ceritakan di sini kalau aku tinggal berjauhan dengan anak dan istriku, so sebagai bapak dan suami yang (berusaha) baik tiap hari aku teleponan ke istriku, bisa satu, dua atau tiga kali sehari sesudah ataupun sebelum makan sesuai dosis yang ada (lho emangnya minum obat!). Ketika agak longgar di kantor kemarin, aku telepon istriku nanyain kabar, ngecek anak –anak dan sedikit cerita apa saja asal aku bisa ngomong dan membuktikan jarak bukan penghalang kebersamaan kami.

“Wa alaikum salam, eh bapak.. barusan Nita nangis tapi sambil ketawa dan bilang, aku mau nelpon… cerita ke bapak nanti” “Ya udah, mana, kasihin ke Nita”. Nitapun mulai bercerita, kalau tadi pulang sekolah dia bingung dan terpaksa naik ojek. Biasanya pulang sekolah dia sms ke ibunya untuk di jemput di tempat pemberhentian angkot, tapi kali ini dia tidak bisa sms ataupun nelpon karena hpnya disita oleh gurunya. “lho kenapa Nit, hpmu disita?” “Ketahuan pengawas ujian ketika aku pakai buat nyontek” (Hah…anak gue nyontek ?! Ketahuan, lagi!). “Lho kamu nyontek…emang gimana ceritanya?”

Dengan suara yang kemayu, buru-buru dan diseret tak berjeda tanpa intonasi dan diksi yang jelas aku hanya menangkap garis besar certitanya. Hari itu Nita sedang ujiang mid semester sosiologi, pelajaran yang sulit baginya. Karena di hari-hari sebelumnya temannya sukses membuat contekan maka Nitapun terinspirasi mengikuti jalan sukses sang teman, dan sebagai media contekan dipilihlah hpnya. Sebagai pemula sudah pasti gelagat culunnya ketahuan oleh pengawas, dan disitalah hp itu sebagai barang bukti tindak ‘kejahatanya’.

Aku heran, bingung dan merasa aneh, aku dulu kalau dihukum guru gara-gara lupa bikin PR atau datang terlambat, tak berani aku cerita ke ortu. Aku sangat takut kena marah, malu dan sebagainya. Lho ini Nita kok dengan entengnya cerita bahkan dibela-belain mau nelpon segala ke bapaknya tanpa takut dan pekewuh. Aku masih heran tapi aku salut dan hargai kejujuran dan kenyamanan Nita berterus terang ke bapaknya. Aku masih heran, bingung meski menjawab apa, dan lebih membingungkan lagi, intonasi bicaranya yang sekenanya, nerocos terus persis dar der dor petasan betawi menyambut datangnya tamu di suatu hajatan. Daripada salah jawab akupun hanya bilang “Trus… aku harus bilang wouw gitu..?!” “Ah bapak…he he he…” “ Ya udah besok kita bicarain lagi kalau bapak ke Semarang ya”.

Bukan soal nyontek atau disitanya hp anakku , yang ingin aku tekankan disini. Namun setidaknya saat itu aku merasa aku bisa menjadi sosok yang tidak angker dimata anakku, aku aman dijadikan tempat curhat bagi anakku yang sudah ABG. Setahuku di usia balita hingga anak-anak anak sangat tergantung dan everything adalah orang tuanya. Ketika beranjak remaja anak mulai lebih percaya dan nyaman kepada teman-temannya, bahkan mulai bermain rahasiaan ke ortunya. Selama ini aku memang ingin aku menerapkan ajaran ustadzku dulu, yaitu anak jika masih bayi adalah raja, usia anak-anak adalah murid, ketika remaja adalah sahabat dan setelah itu menjadi partner atau rekan seperjuangan.

Soal kasus nyonteknya si Nita adalah memang kecurangan yang tidak boleh dibiarkan, namun aku tak mungkin langsung memarahinya. Karena bagiku bicara langsung empat mata akan lebih baik hasilnya nanti, sebab aku bisa membaca bahasa tubuhnya, ekspresi wajahnya, argumennya dan tindak nyata setelah itu. Takut menghukum anak karena alas an sayang juga bukan solusi, tapi justru menyuburkan kebobrokan pada anaknya. Di sisi lain aku lebih suka menanamkan pola pikir sesuai kondisi dan lingkungan anak, agar lebih efektif dan akan melakukan sesuatu bukan karena takut dimarahi tapi karena pemahaman dan kesadaran yang mendalam.

Setidaknya aku merasa tersanjung bahwa aku bukan monster atau polisi berkumis tebal yang ditakuti anakku. Aku ingin jadi sahabatnya sekaligus panutan baginya.. I love you my daughter , I love you all my children.


TAGS nyontek sayang anak tersanjung tips mendidik anak bersahabat dengan anak


-

Author

Seseorang yang ingin berbagi pengalaman atau ide lewat tulisan

Follow Me