Ketika Agustusan Tanpa Panjat Pinang

17 Aug 2012

371b9e6a65f017d64bddb7374c05a4f6_hutri-67Tujuh belasan kali ini tidak seramai tahum-tahun sebelumnya. Tak ada lomba panjat pinang, tak ada balap karung, tak ada tarik tambang, ada balap kelereng apalagi lomba makan kerupuk…setidaknya betigitulah yang terjadi di komplek dimana aku tinggal. Ya maklum saja sudah dua tahun ini moment tujuh belasan jatuh bersamaan dengan datangnya bulan ramadhan. Jangankan ikutan ngurus kegiatan agustusan (biasanya aku kebagian bikin drama anak-anak) aku bahkan sudah pulang kampung sejak tiga hari yang lalu…

Sejujurnya ada kerinduan untuk bisa kumpul rame-rame dengan tetangga menikmati kebersamaan memperingati ulang tahun berdirinya negeri ini. Sebenarnya sih di tempat ortu (di kampungku) ada tirakatan tadi malam selepas shalat tarawih, namun aku sudah tidak pede kumpul bareng dengan tetangga yang sebagian besar sudah ganti generasi yang tidak lagi aku kenal, orang seangkatanku sudah pada merantau dan generasi sudah banyak berubah. Lagi pula aku lebih suka di rumah menemani bapakku yang sudah sepuh mulai sakit-sakitan dan tidak berani kena angin malam.

Bulan Agustus tahun ini memang tidak heboh dan semeriah tahun sebelumnya, tapi tak berarti harus sepi makna juga kan? Bendera dan umbul masih ramai berderet di tepian jalan. Kantor-kantor dan sekolah masih tetap mengadakan upacara bendera, dan juga di dunia maya ini aku masih ikut memperingatinya lewat tulisan ini..

Bulan agustus yang bertepatan dengan datangnya ramadhan sebenarnya justru sebuah berkah tersendiri. Bukankah negeri ini diproklamirkan juga bertepatan dengan puasa. Konon teks proklamasi juga dirumuskan dan ditulis hingga waktu makan sahur tiba. Jadi sebenarnya justru ‘proklamasi banget’ kalau peringatan agustusan u itbersamaan dengan bulan ramadhan.

Saat ini kalau kita mau jujur lebih banyak hal memprihatinkan dibandingkan hal yang membanggakan tentang negeri ini. Lihat saja kini setelah 67 tahun merdeka sudahkan tujuan dari berdirinya negera ini tercapai, sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945 alenia keempat yang berbunyi : Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia…

Jujur saja tanpa hendak menyalahkan siapapun negeri ini belum mampu meindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Betapa warga Negara kita banyak terhukum mati di negeri orang, meski berhasil juga sebagian diselamatkan baik dari hukuman mati ataupun penyanderaan. Sementara di dalam negeri betapa banyak warga kita yang masih terjajah oleh pengusaha dari luar negeri. Hak rakyat untuk mengelola tambang ditanah sendiri kalah dengan penguasa asing yang mengeruknya dan kemudian hanya meninggalkan lahan mati terkuras dikemudian hari.

Kesejahteraan dan pendidikan yang layak masih menjadi barang mahal untuk sebagian besar penduduk negeri ini. Secara teori pendidikan untuk SD dan SMP harusnya gratis, namun praktiknya tetap saja kena ‘sumbangan ini dan itu, yang memberatkan. Perguruan tinggi negeri dirubah statusnya menjadi badan usaha dengan dalih ‘profesionalisme’. Yang terkesan di masyarakat adalah jika untuk pinter sekolah masuklah sekolah mahal, RSBI misalnya. Aku jadi ingat seolah ini terjadi kemunduran peradaban, dimana di jaman penjajahan dahulu hanya anak pejabatlah yang boleh sekolah, kini hanya beda tipis hanya anak orang kayalah yang bisa masuk sekolah bermutu.

Soal kesejahteraan umum lebih parah lagi, selama para petinggi partai melindungi anggotanya yang korupsi jangan harap aka nada kesejahteraan umum. Jika para petinggi partai masih bersikap demikian aku yakin seyakin yakinnya bakal ada revolusi tentang system penyelenggaraan negara saat ini. Yang sudah melenceng dari tujuan berdirinya Negara..

Ikut melaksanakan ketertiban dunia? Bagaimana mungkin memikirkan ketertiban dunia jika antar lembaga negarapun masih ‘bertarung sendiri’ , semoga tak separah kesan di masyarakat, tapi tengoklah bagaimana drama ‘cicak lawan buaya’ juga’drama saweran rakyat untuk gedung KPK’, para mentri yang sibuk ngurusin partainya dan lain-lain dan sebagainya..

Eh masih puasa ya? Maaf ya kalau jadi ngomongin yang jelek-jelek, tapi tak nyebut orang kan? Jadi marilah moment agustusan di bulan ramdhan ini marilah lebih afdol bila digunakan untuk kembali berintropeksi buat diri kita sendiri. Jangan-jangan kita sibuk menyalahkan pemerintah sementara kita,curang membayar pajak, bicara soal ketertiban negeri orang sementara kita suka menyrobot antrian atau melanggar lampu merah dan suka buang sampah semaunya…

Ah daripada sibuk nyalahin orang lebih baik ngaca diri ajalah..sudahkan kita jadi warga Negara yang baik, jadi tetangga yang baik, jadi anggota masyarakat yang baik dan jadi blogger yang baik dan tidak sombong (dan gemar menabung..) He he he…. I love you full Indonesiaku…. Selamat berpuasa, selamat memperingati HUT RI ke-67. Merdeka !!


TAGS makna HUT RI HUT RI 67 agustusan pembukaan UUD 45 panjat pinang ramadhan proklamasi


-

Author

Seseorang yang ingin berbagi pengalaman atau ide lewat tulisan

Follow Me