
Hari Minggu kemarin aku menyempatkan diri untuk pulang kampung sekeluarga ke kota kelahiranku Salatiga. Acara Minggu pagi itupun istimewa bagiku karena aku berkesempatan menemani kedua orang tuaku berjalan jalan pagi (persiapan beliau akan pergi Umrah), Isrtiku tak ikut karena anak terkecil kami belum bangun dan anaku yang besar tak kuat dinginya udara pagi kota di kaki gunung Merbabu ini. Jalan jalan pagi adalah kebiasaan kami puluhan tahun lalu, tapi ketika itu kami berempat bersama adiku yang saat inipun sebenarnya juga sedang pulang kampung, ada di rumah juga, tapi harus menjaga anaknya yang belum bangun karena sang istri sudah berangkat pagi sebagai dokter jaga di RSU Wonogiri, jadilah kami bertiga menapaki kembali rute favorit kami puluhan tahun lalu yaitu lapangan Pancasila, alun-alun di kota ini.
Alun-alun kota Salatiga menurutku dibangun keluar dari pakem alun-alun pada umumnya. Konon alun-alun merupakan peninggalan seni tata kota kerajaan Islam di Jawa. Alun alun adalah sebuah lapangan besar di pusat kota dan biasanya dikelilingi kantor pemerintah (istana), masjid dan pasar. Alun-alun adalah konsep perlambang bersatunya kekuatan rakyat (umat) diwujudkan lapangan, pemerintah (umaro) dalam wujud kantor pemerintah, kekuatan ruhiyah dalam wujud masjid dan kekuatan ekonomi dalam wujud pasar dipinggiran alun-alun. Pohon beringin besar di lapangan adalah tempat rakyat berteduh ketika akan menghadap pemerintah, jadi lapangan ataupun alun-alun sendiri merupakan simbul sekaligus sarana berdemokrasi.
Sekarang bandingkan dengan alun-alun kota Salatiga, sebuah lapangan besar di depan kantor wali kota dan gedung DPRD ini ditemani oleh gereja, dan kantor polisi dan masjid. Kalau radius jelajah kita perbesar sedikit saja hingga seratus meteran, maka akan kita temui tiga buah gereja dan dua buah masjid (satu lagi masjid di kantor polisi tak terlihat dari jalan) dalam jarak itu, lalu pasar…masih harus jalan lebih dari tiga ratus meteran lagi baru ketemu pasar kota Salatiga. Sekedar tambahan informasi bahwa masjid ini baru ada sekitar tahun 80-an ketika Yayasan Muslim Pancasila gencar membangun masjid dengan arsitektur yang serupa dan sekitar dalam satu tahun ini masjid amal bakti muslim pancasila itu diperbesar hingga dua lantai. Jadi awalnya dahulu alun-alun ini hanya dikitari kantor wali kota, kantor wedana, kantor polisi dan gereja tua peninggalan colonial Belanda.
Kota kristenkah Salatiga? Sulit disebut seperti itu karena data dari MUI kota yang pernah disinggahi dan diberi nama oleh Ki Ageng Pandanaran ketika berkelana mencari mencari sang guru Sunan Kalijaga ini dihuni umat muslim sebanyak 80% dan Nasrani hanya 11% saja. Banyaknya bangunan gereja mungkin karena dulunya Salatiga adalah kota peristirahatan pemerintah Belanda sehingga wajar banyak ditemui gereja tua di sini. Sekolah Theologi Kristenpun ada tiga buah sedangkan perguruan tinggi Islam hanya satu STAIN ‘cabang’ dari Semarang.
Aku masih berjalan kaki pagi memutari alun-alun lapangan Pancasila ini, banyak yang sudah berubah namun kenanganku akan tempat ini masih jernih mengalir mempertemukan kembali mozaik peristiwa yang aku alami di sini. Tiap lebaran tiba lapangan ini dipakai untuk Shalat Ied dan uniknya bila Shalat Ied jatuh pada hari Minggu maka di sela alunan takbir dan tahmid jamaah sholat Ied, terdengar pula merdunya nyanyian pujian dari gereja sekitar. Kami tak saling merasa terusik, jika jemaah gereja selesai kebaktian lebih dulu merekapun melintasi jalanan sekitar lapangan dengan santai saja sambil melihat umat muslim yang masih duduk mengikuti ritual lebaran itu. Sebaliknya ketika lapangan becek dan jamaah meluber hingga ke jalanan, halaman gerejapun dipakai untuk shalat Ied bagi warga yang tidak tertampung di lapangan atau di jalan!
Semasa sekolah (dari SD sampai SMA) teman-teman belajar kelompoku selalu ada unsur Islam dan Kristen. Dulu karena rumah teman tak muat untuk belajar kelompok, maka akupun dan teman muslim lain mengerjakan tugas sekolah di dalam gereja yang kebetulan menempel dengan rumah temanku yang Kristen itu. Sebaliknya ketika SMA kami pernah sholat Ashar berjamaah di rumah Jian jian teman kami keturunan Tionghoa yang beragama Kristen, ketika belajar kelompok di rumahnya. Untuk kegiatan bersama kami selalu mempertimbangkan rutinitas keagamaan teman lainya, aku harus tahu jadwal kebaktian teman Kristen kami begitupun mereka menghargai jadwal sholat lima waktu kami. Tersenyum sendiri aku, ada kerinduan dan kebahagiaan dalam masa laluku, aku tak juga berkeringat walau sudah lebih dari lima putaran lapangan kami lalui, rasanya udara dingin kota di ketinggian 750-850 meter di atas permukaan laut ini dan perasaan bahagiaku cukup, mendinginkan badan sehingga keringat tak perlu mengalir.
Sekedar informasi kawan..,agar tak salah persepsi soal kehidupan beragama kami, terpaksa aku ceritakan di sini, bahwa dulu keluargaku cukup ketat dalam mendidik agama ke anak-anaknya. Sebelum aku kenal les privat bahasa Inggris dan Fisika orang tuaku lebih dahulu memanggil ustadz dan ustadzah rutin seminggu sekali ke rumah untuk membimbing kami baca Al quran. Bapakku seorang aktivis dan salah satu pendiri sekolah Islam di Salatiga.
Cerita tentang toleransi ini ternyata masih bersambung hingga kepulanganku dengan bus malam menuju Jakarta (anak dan istriku di Semarang) ketika tiba-tiba seorang wanita disebelahku mengulurkan tangan memperkenalkan diri “Pak saya Vina !” Aku kaget, kikuk dan heran, tak biasanya seorang wanita memulai perkenalan dengan orang asing di perjalanan, ini kejadian pertama bagiku setelah ratusan kali menggunakan jasa bus malam. Belakangan aku bisa memaklumi karena rupanya Vina ini, seorang Mahasiswi Theologi jurusan pendidikan di Salatiga yang sering melakukan pelayanan di gereja-gereja baru. Sebagai calon gembala umat sudah sewajarnya dia bersikap ramah kepada siapapun. Dengan antusias gadis berwajah agak-agak oriental (ayah angkatnya orang Korea) ini menceritakan seputar kegiatan dia di kampusnya, di gereja dan beberapa kegiatan pelayanan yang dia lakukan. Aku cukup menghormatinya karena itu kubiarkan dia asyik ber bla-bla-bla ria tanpa sedikitpun rasa curiga. Akupun tak ada keinginan mengoreknya terhadap ‘hal-hal rahasia’ atau ‘menjebaknya’ meskipun aku rasa dia tak tahu kalau aku seorang muslim, karena aku bisa mengimbanginya makala dia bercerita seputar kegiatan gereja (teman kecilku kan banyak aktivis gereja juga).
Sebenarnya aku ingin katakan pada Vina kalau aku ini seorang muslim, bahkan aktivis masjid yang mengurusi kegiatan pengajian remaja (meskipun bukan ustadz), namun tak ada momen yang tepat untuk kalimat itu. Karena itulah kubuat tulisan ini aku harap salah seorang dari pembaca adalah seorang (atau calon) misionaris bahwa kami para aktivis masjid bukanlah pihak bersebrangan dengan Anda mari kita sama sama menyeru kepada umat masing-masing untuk kembali kepada jalan Tuhan, jalan kebaikan. Mari berfanatik secara pribadi dan mari hormati perbedaan yang ada. Agama Islam mengajarkan untukmu agamamu dan bagiku agamaku…Saya berpandangan bahwa sesama muslim itu satu saudara sedangkan umat lain adalah satu keturunan juga dari kakek moyang yang satu yaitu Nabi Adam Alaihi Salam. (maaf, kecuali jika Anda pengikut sejati teori Darwin..) Namun jika para pembaca ternyata seorang muslim juga namun berbeda pandangan, saya tetap menghormati apapun pandangan hidup Anda jangankan terhadap orang lain kepala saya sendiripun pandanganya lain, mata kanan saya minus dua dan mata kiri minus satu setengah….Keindahan terbentuk justru karena adanya perbedaan.
Indahnya Toleransi (Oleh-oleh dari kota Salatiga)
Untung Ada Piala Dunia
Saya merasa beruntung dengan adanya pertandingan piala dunia kali ini. Padahal saya bukanlah termasuk orang yang gila bola, penggemarpun tidak, bahkan tim sepak bola yang berlagapun tidak semuanya saya tahu. Saya justru orang merdeka dalam artian kecanduan terhadap sepak bola. Saya adalah orang yang tidak merasa perlu tahu dan terikat dengan jadwal pertandingan piala dunia, saya bebas untuk pergi tidur di saat orang lain berjuang menahan katuk menungguin tim kesayanganya berlaga. Saya juga tak merasa perlu membeli pernak-pernik asesoris piala dunia agar terlihat ‘gaul’. Tapi saya bersyukur ada piala dunia karena sedikit meredam dominasi berita negatif yang menjejali media massa kita.
Saya sudah gerah dengan segala kebobrokan di republik ini, belum tuntas kasus Gayus, kecurangan pelaksanaan Ujian Nasional, mafia kasus, keributan dalam pilkada, sikut-sikutan antar jendral polisi, obok-obokan pimpinan KPK, penculikan anak hingga video asusila orang tenar yang terus menerus diekspos hingga anak kecilpun merasa butuh untuk memiliki…naudzu billah. Sebel bel bel bel… dan muak tapi tak kunjung muntah..
Di awal reformasi saya sangat anggap mulia profesi wartawan yang menulis ketimpangan system di negeri ini, hingga sayapun ikutan kursus jurnalistik. Bangga sekali saya bisa pegang kartu pers ketika itu (walaupun tertulis sebagai peserta kursus jurnalistik saja..), meliput kegiatan amal, meliput demotrasi dan wawancara dengan pejabat. Di dalam tas usang saya selalu membawa kamera saku dan tape rekorder kecil dengan kaset kosongnya…wah gaya abis pokoknya! Dengan kartu pers terselip di dompet ,ketika itu saya berharap jadi bagian dari perubahan sejarah negeri ini.
Seiring berjalan waktu, berita yang muncul mulai terlihat misi masing-masing penulisnya dibalik pemberitaan mereka, tokoh yang sepaham disanjung setinggi langit hingga keluar dari orbit jagat raya, tokoh atau orang yang tak sepaham di tenggelamkan jauh ke dasar lautan hingga segitiga Bermuda, dikupas habis aibnya hingga benar-benar telanjang hingga terekspos tulang rangkanya. Saya kecewa dan mengubur cita-cita menjadi seorang pewarta.
Perubahan memang terjadi (tanpa andil saya) berita yang ditulis dengan nurani dan kejujuran memang masih ada, tapi sebagai pengamat berita (jailee..gaya amat nih) saya masih saja kecewa (salah sendiri kali ya… sapa suruh jadi pengamat !) berita yang laku dijual kebanyakan berita yang bermuatan konflik, dan menggunjing kejelekan orang, maksud saya orang menjadi bahan berita lebih sering karena konflik atau kasus kriminalnya, bukan prestasi atau kebaikan orang terhadap masyarakatnya.
Awal ketenaran Pak Susno karena dicurigai media mengkriminalisasikan pimpinan KPK bukan karena keberhasilan menangkap para teroris, pegawai kantor pajak namanya ramai menghiasi media karena markusnya, bukan karena andilnya bersama pegawai pajak lain dalam meningkatkan penerimaan negara untuk modal pembangunan negeri ini, pelaksaan ujian nasional lebih mengemuka sisi jeleknya daripada tujuan awal digagasnya peningkatan kualitas dan kesetaraan pendidikan bagi anak bangsa, stabilitas bahkan penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika lebih tertutup berita ibu mentri yang lama menjadi bulan-bulanan anggota DPR. Artis kitapun tiba-tiba bisa ‘go Internasional ‘ gambarnya banyak diburu bahkan menjadi pembicaraan level menteri ,tapi sayang bukan karena album barunya atau sukses meraih penghargaan suatu vestifal tapi karena video asulilanya…
Tak habis pikir saya dengan yang terjadi di Negara yang berasaskan ketuhanan dan kemanusiaan ini. Wartawan butuh uang dari media tempat ia bekerja, media dapat hidup dari berita yang dijualnya, dan berita picisan lebih laku di sini. Salah masyarakatkah? Masyarakat terbentuk pola pikirnya karena informasi yang mereka terima, mereka terbiasa mengkonsumsi berita tak mendidik yang mereka lahap dari media, jadi … duluan ayam atau telurkah? Saya tak mau mengatakan ini sebagai lingkaran syetan karena itu hanya persembunyian untuk usaha mengurai akar masalah saja.
Saya hanya kadang merasa rindu dengan berita tentang pejuang lingkungan yang meraih kalpataru, perjuangan dokter terpencil menjaga kesehatan suku terasing, kegigihan guru dengan keterbatasan fasilitas dan sebagainya. Saya hanya ingin anak saya bisa terinspirasi hal positif dari Koran yang baca, acara tv yang dilihat, sehingga tahu bahwa menjadi orang baik akan dihargai dan diberitakan kepada banyak orang. Saya masih bersyukur bisa membaca kesuksesan pelajar kita di olimpiade sain tingkat dunia, saya bangga bisa membaca prestasi anak SMK merakit sebuah mobil hasil rancangan mereka… tapi sayang itu saya peroleh hanya dari tulisan di internet yang sepertinya hanya sedikit orang mengaksesnya…
Karena itu kini piala dunia menjadi pengobat rindu saya tentang cerita sebuah prestasi yang dihargai dan diberitakan secara terhormat, orang menjadi pusat berita tak harus jadi teroris, koruptor, atau bertingkah asusila. Ya kerjasama tim, pelatih yang kompeten, pemain berbakat, penonton yang tertib ternyata juga sebuah sajian indah dinikmati. Untunglah ada piala dunia….
Membuat Papan Tanpa Menebang Pohon
Tulisan ini sebenarnya sebuah sebuah reka ulang artikel yang lebih dari lima atau enam tahun yang lalu (aku lupa tepatnya) aku kirimkan ke majalah Intisari dan tidak dimuat, tanpa keterangan apapun. Hingga saat ini , aku tak tahu apakah tidak sesuai, ataupun tidak sampai ke meja redaksi dan entah nyangkut dimana. Biasanya kalau kita mengirimkan tulisan ke suatu penerbitan dan menyertakan prangko balasan, jika tulisan itu tidak dimuat akan dikirim kembali dengan pemberitahuan seperlunya (he..he..ketahuan tulisannya sering ditolak nih… :)).
Kalau mengatakan papan pasti yang terbayang pada kita tentu suatu lembaran dari kayu. Karena lembaran dari kayu sudah pasti diambil dari batang ataupun dahan pohon yang telah ditebang atau dipotong setidaknya, tapi papan yang aku maksud kali ini suatu lembaran yang secara fisik memenuhi persyaratan papan tapi dihasilkan tanpa serpihan kayu apalagi memotong bahkan menebang pohonya. (Hah…?!!)
Papan yang sangat ramah lingkungan ini sebenarnya hasil penelitian seorang teman dari UPT Balitbang Biomaterial – LIPI yang mengembangkan penelitian pembuatan papan partikel dari sabut kelapa, beberapa tahun yang lalu. Terus terang sebagai pencinta lingkungan, aku sangat tertarik dengan hasil penelitian itu, makanya begitu ditunjukan contoh papan papan yang mereka buat aku begitu antusias untuk menceritakan kepada banyak orang dan aku pandang majalah intisari cocok memuatkan tulisan itu aku kirim ke sana dan ternyata harapan tak berbuah kenyataan. Tapi sekarang aku cukup lega karena tulisan ini akhirnya tersebar juga lewat media dalam bentuk lain dan dapat diketahui lebih banyak orang secara gratis. (emang enak ternyata punya blog…)
Papan dari sabut kelapa ini sangat menarik dari seg kelestarian lingkungan maupun dari potensi yang dimiliki untuk dikembangkan. Sabut kelapa biasanya merupakan limbah dari pengolahan buah kelapa. Sekitar 35% dari berat kelapa adalah sabut kelapa, 12% tempurung, 12% daging buah dan selebihnya adalah air kelapa. Karenana jika pemanfaatan kelapa hanya sekedar daging buahnya isa kita pastikan lebih banyak limbah daripada hasilnya.
Pemanfaatan sabut kelapa yang paling banyak hanya dipakai untuk pembuatan tali, keset , sapu atau bahkan sekedar gosokan pencuci piring yang tentu saja nilai ekonomisnya rendah. Beberapa orang memang sudah mengekpor sabut kelapa untuk diolah diluar negeri menjadi karpet, jok, kasur, matra penyekat panas, peredam suara dan sebagainya. Namun semua itu kita masih sekedar menjualnya sebagai bahan baku yang murah dan orang asing yang mengolahnya dengan harga jual yang berkali lipat.
Pohon kelapa adalah tanaman tropis yang dapat tumbuh dari daerah pantai hingga di daerah pegunungan di negeri ini. Sebagai Negara kepulauan dengan total panjang pantai terbesar tak heran bila sejak tahun 1988 Indonesia menempati urutan pertama Negara dengan areal tanaman kelapa terluas di dunia! Data pada tahun 1990 mencatat luas tanaman kelapa kita mencapai 30,9% dari total area kelapa dunia, atau dengan kata lain hampir sepertiga tanaman kelapa seluruh dunia ada di Indonesia! (wouw luar biasa!)
Bagaimana papan sabut kelapa dibuat?
Sabut kelapa terdiri dari serat coir pith. Serat sabut kelapa dipilih yang memiliki panjang 15 hingga 20 cm dan coir pith dipilih yang berukuran 1 hingga 3 cm. Serat sabut kelapa dipotong menggunakan mesin ring flanker menjadi berukuran 1 hingga 4 cm dan coir pith dipotong antara 1 hingga 3 cm. Potong kemudian dikeringkan di dalam dry klin hingga tercapai kadar air kurang dari 6%. Pengukuran ini dilakukan dengan metode kering oven dan timbangan.
Serat sabut kelapa dan coir pith yang sudah kering dicampur dengan bahan perekat campuran Urea Formaldehida (UF) dan Penol Formaldehida (PF) dengan perbandingan tertentu. Campuran bahan tersebut kemudian diproses kempa panas, hingga menjadi lembaran papan. Papan yang terbentuk selanjutnya diangin anginkan selama lebih kurang satu minggu di dalam ruang pengkondisian pada suhu kamar. Pengkondisian tersebut berguna untuk menyeragamkan kadar air serta menghilangkan tegangan dan regangan pada papan karena proses kempa panas.
Diperlukan trik khusus pada proses pembuatan papan sabut kelapa ini, karena coir pith memiliki sifat membal (sifat tekan balik), sehingga setelah dipres cenderung balik lagi. Pemakaian perekat yang lebih banyak dapat mengatasi maslah namun menghasilkan produk yang kuarang memuaskan dan berdampak pada mahalnya harga jual produk nantinya.
Di atas aku tuliskan secara fisik memenuhi persyaratan sebagai papan, karena memang produk ini telah memenuhi standar uji JIS A 5908 type 8, dimana papan sabut kelapa ini memenuhi persyaratan dalam hal kerapatan, pengembangan, modulus elastisitas, modulus rupture, cabut sekrup dan kekuatan rekat. Dengan kata lain papan ini dapat diandalkan sebagai papan non structural. Papan sabut kelapa ini dapat menggantikan kayu pada kotak speaker, plafon, partsi ruangan ruangan (tanpa beban), insulasi panas, peredam suara dan sebagianya.
Cukup disayangkan memang jika potensi yang begitu bagus ini terlewat begitu saja, masihkan harus mengorbankan pohon berusia puluhan tahun untuk ditebang hanya untuk sebuah papan, sementara limbah sabut kelapa yang teronggok sebenarnya dapat menggantikan. Butuh kearifan dan dukungan dari semua pihak termasuk kita .. Mari merenung dan bertindak apa yang bisa kita lakukan untuk kelestarian alam dan terjaganya bumi kita. Hanya ada satu bumi untuk kita tinggali saat ini dan entah berapa lama lagi untuk tempat tinggal anak cucu kita nanti.
Sirih Merah Mengobati Mata Merah
Pagi itu begtu sampai di kantor mataku sebelah kiri terus saja merasakan ada kotoran keluar seolah ada debu yang masuk disela bola mataku. Mulanya aku anggap wajar, mungkin kena debu di jalanan tapi. Makin siang rupanya mata semakin gatal dan banyak mengeluarkan air mata, sadarlah aku bahwa aku sedang kena sakit mata. Maka begitu habis sholat jumat dan menyelesaikan target pekerjaanku hari itu aku langsung izin pulang, agar tidak menulari teman yang lain.
Sampai di rumah aku langsung tiduran sambil berharap mataku dapat sembuh begitu aku bangun sore nanti. Hingga menjelang Maghrib mataku bahkan sudah memerah semuanya dan menyerahlah aku, hingga aku putuskan harus ke dokter sehabis sholat Maghrib.
Di komplek aku tinggal kebetulan ada tiga orang dokter yang praktek di rumah, sorang dokter yang paling dekat rumah bahkan terlihat dari halaman rumah jarang ada di rumah dan kalau ada ketuk pintunya lama banget keluarnya, aku sungkan menelponnya karena dia seorang ibu-ibu. Dokter lain berjarak seratus meteran hanya praktek di rumah dan hamper selalu stand by, tapi ehm… mahal sih . Sehingga akupun memilih dokter yang terjauh tapi dekat diongkos..Tapi ternyata di rumah prakteknya tertulis sedang keluar, tidak praktek!
Dengan penuh kepasrahan akupun harus menyerah kepada dokter mahal itu, tapi rupanya di situ sudah mengantri tetanggaku yang lain dengan mengajak serta istri dan dua anaknya, “Siapa yang sakit?” tanyaku “O ini si kecil sudah dua hari panas jadi saya bawa ke sini” “Sakit apa?” dia balik bertanya. Aku hanya menujuk mataku dengan telunjuk jariku.. “Wah gantian dong, kemarin aku yang kena, lagi musim nih… (diapun lantas menyebut nama-nama tetangga yang sudah bergantian sakit mata). “Aku kemarin sih cuma aku obati tetes mata aja sembuh kok..” “ oya, tidak minum obat?” “ Ah nggak tetes matanya juga masih ada kok”. Sibapak yang baik itupun menyuruh anaknya pulang dan mengambil obat tetes mata itu, dan untuk menghormatinya akupun menerima tetes mata itu dan tak jadi ke dokter.
Kuanggap ini keajaiban bagiku karena tempat dokter yang biasanya maha itu aku justru mendapat obat gratis…A ha! Aku suka dengan keajaiban, akupun mencium akan ada keajaiban lain yang datang. Esok harinya mataku menjadi bengkak dan gatal sekali, setelah menetesi mata aku menjalankan ritual khusus kesukaanku…mengunjungi ‘mbah Google’! Tak perlu syarat aneh-aneh untuk bertanya pada sang dukun sakti ini, dijamin bebas klenik dan syirik. Bahkan aku browsing sambil rebahan di tempat tidur sembari istirahat agar mataku tak tambah parah. Alhamdulillah, HPku cukup bisa diandalkan untuk pekerjaan beginian.. dan benar keajaiban muncul lagi di halaman rumahku, karena ternyata bahkan sebelum sakit obat itu sudah tersedia di halaman rumah! Sirih Merah (piper crocatum) sang pohon gratis pemberian mertuaku yang sudah sekitar satu tahun aku rawat ternyata bersedia gantian merawat mataku….
Caranya…ambil tiga lembar daun sirih merah yang belum begitu tua, rebus dengan sekitar empat gelas air (bisa juga direndam di air panas), wuih baunya haruuum bener… setelah dingin atau masih agak hangat pergunakan air tersebut untuk mencelupkan mata yang sakit tersebut. Tapi aku sedikit berimprovisasi dengan menyapu kantung mata yang bengkak dengan kapas yang dibasahi air daun sirih itu, enaaak bener… gatalnya hilang dan mata lebih kering. Sapukan sambil memijat kantung mata yang bengkak, agar lebih steril gantilah dengan kapas yang baru setiap kali menyapunya.
Dibandingkan dengan obat tetes mata yang mengandung Tetrahydrozolin HCl dan Benzalkonium chloride ini, air rebusan sirih merah lebih enak dipergunakan karena tidak perih di mata dan mata tidak berair, juga sensasi wanginya yang sungguh memesona. Bahan aktif yang ada pada sirih merah ini antara lain flavonoid dan polevenolad bersifat antioksidan, antidiabetik, antikanker, antiseptic dan antiflamasi.
Sirih merah kadang juga diminum untuk pengobatan asam urat, kencing manis, maag dan kelelahan. Sumber lain menyebutkan daun sirih merah juga memiliki efek mencegah ejakulasi dini, antikejang, anti ketombe, analgetik, mengendalikan gula darah , lever, antidiare meningkatkan daya tahan tubuh dan meredakan rasa nyeri (rubrik kesehatan kompas.com).
Sakit mata merah ini disebabkan oleh virus yang konon belum tentu virus mata, tapi karena kondisi tubuh kita yang sedang tidak fit maka timbul gejala pada sakit mata yang telah kita bahas. Seperti halnya penyakit lain yang disebabkan virus, biasanya ketahanan tubuh menjadi factor penentu. Karena itu saya perbanyak istirahat dan mengkomsumsi minuman penguat daya tahan tubuh yang mengandung extract daun Meniran (phyllantus niruri). Saya kebetulan juga penganut mazhab self healing , sehingga lebih suka istirahat total daripada memnium obat kimiawi yang aku hindari efek sampingnya.
Oya, ada anjuran untuk tidak lebih dari tiga kali sehari mncelupkan mata kita ke air rebusan daun sirih ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Apapun hal di dunia ini berlebihan adalah tindakan tidak benar dan terkadang lebih banyak mudharat daripada manfaatnya.
Alhamdulillah dalam tiga hari mata saya sudah sembuh kembali . Dan ketika ada tetangga lain yang kena gilran matanya bermerah-merah saya dengan senang gantian memberikan obat tetes mata (yang hanya sedikit saya pakai) dan menawarkan daun sirih merah kebangganku supaya dia juga punya pilihan untuk pengobatan dengan sedikit bumbu kisah kesembuhan saya.
Hmm sungguh senang jika semua orang ringan tangan membantu sesama, dan kita menjadi bagian dari mereka yang suka menolong. Iindahnya hidup inbi jika kita saling peduli dan mengasihi…
Layar Monitor Anda Hilang Warna Merahnya?

Ini pernah aku alami kurang lebih setahun yang lalu. Warna merah tiba-tiba hilang meskipun seting pada menu monitor sudah aku lakukan. Untuk pekerjaan mengetik tidaklah mengganggu tapi ketika ada pekerjaan gambar yang perlu tampilan warna terasa sekali gangguannya. Solusi masalah ini tentu saja secara default dibawa ke tukang service ,sehari berikutnya pulihlah semua urusan. Ya dan inilah aku lakukan ketika itu, namun kira-kira sebulan yang lalu keluhan itu ada lagi, karena belum ada kesempatan lama kelamaan warna kuning ikutan hilang, waduh… siaga satu nih.
Membawa lagi ke tukang service memang solusi instan, tapi sebagai orang yang kadang sok tahu, rasa penasaran pun menggelitik, bukankah ini peluang untuk menambah ilmu? Berbekal pertemenan tanya sana sini akhirnya aku beranikan diri membongkar monitor itu, (o ya sebagai informasi aku masih setia pakai monitor CRT yang tebal kebelakang).
Atas informasi dari teman-teman aku dapat kesimpulan bahwa ada komponen bagian RGB (Red Green Blue) yang bermasalah, entah harus diganti atau cuma solderan yang yang lepas. Aksipun dimulai, aku bongkarlah chasing monitor, waduh ternyata bagian RGB yang ditunjukan teman tertutup lagi chasing metal yang disolder, sehingga aku kesulitan untuk mengeceknya. Aku kesulitan membukanya karena solderanya begitu kuat dan banyak ikatannya. Akhirnya aku cuma bisa membersihkan PCB dan sela-sela kabel yang memang sudah banyak sarang laba-labanya dan berdebu. Chasingpun aku tutup lagi.
Betapa terkejutnya aku setelah dipasang lagi dan coba dihidupkan ternyata semua warna tampil lagi, Alhamdulillah… Disamping bersyukur aku jadi malah bertanya-tanya jangan-jangan service yang dulu juga cuma dibersihkan saja…. Karena biasanya setelah perbaikan si tukang service menunjukan komponen yang ia ganti dan masuk dalam rincian tagihan, tapi seingatku waktu itu monitor hanya diserahkan tanpa informasi penggantian komponen.
Selang sekitar dua minggu, warna merah kembali hilang,( aha… coba bersihin lagi aja!) ya setelah dibersihkan warna semua muncul lagi, tapi pada giliran ketiga terulang lagi wah pasti ada soal lain.
Misi operasipun terpaksa dilakukan kembali, tapi kali ini aku sudah siap dengan alat penghisap timah. Monitor telah aku bongkar, selubung penutup komponen ‘konde’ belakang berhasil aku lepas, lama aku cari bagian rangkaian RGB yang mencurigakan, seperti hangus ataupun terlihat terkelupas solderanya. Karena tak kutemukan akhirnya aku solder ulang saja kabel soket RGB, yah meskipun bukan orang elektro tapi aku setidaknya tahu resiko kalau aku solder ulang semua komponen, karena ada beberapa komponen yang sensitif terhadap panas seperti IC misalnya, jadi bisa-bisa bukanya mengatasi masalah tapi memecahkan masalah, masalahnya tadinya satu malah pecah jadi beberapa masalah lain. Pilihan solder ulang pada soket sebenarnya sekedar daripada tidak action sama sekali dan soket bukanlah komponen yang sensitive terhadap panas.
Dengan harap-harap cemas aku tutup lagi dan mencobanya…dan byar…Alhamdulillah berhasil! Kini monitor itu sudah ada dua bulan aku pakai lagi dan tak ada masalah hingga sekarang, ya..setidaknya hingga aku upload tulisan ini.
Tinggalkan Identitas di tas Anda
Ketika liburan tahun baru kemarin aku hampir saja kehilangan tas gara-gara salah ambil, ketika buru-buru turun dari bus. Begini ceritanya…
Saat itu aku bersama istri dan anak-anak naik bus dari Semarang hendak menuju Salatiga ke rumah orang tuaku. Hari itu sudah sore dan menjelang pergantian tahun, jadi maklum saja kalau dari jalanan macet, masyarakat mulai keluar memenuhi jalanan di kota Semarang sehingga waktu tempuh yang biasanya hanya satu jam saat itu menjadi tiga jam untuk sampai kota kelahiranku.
Anak yang aku pangku ketiduran hingga sampai di perempatan Jetis dekat rumah orang tuaku. Ketika hendak turun ternyata sepatu sandal anakku lepas sehingga aku harus mencari cari di kolong kursi, bus sudah berhenti, begitu ketemu langsung aku pakaikan dengan buru-buru dan ngacir turun sambil comot tas di bagasi atas tempat duduk dan melenggang turun sambil menggendong anakku yang berumur tiga tahun. Cukup berjalan kaki lima menit saja kami menuju rumah ortu yang kebetulan berada di pinggir jalan semarang Solo.
Tiba di rumah hanya ada orang tua kami berdua, kami memilih kamar kosong dan meletakkan tas di sana, betapa terkejutnya aku, begitu menyadari tas yang aku bawa ternyata bukan tasku, betuknya mirip sama-sama tas kantor warna hitam, atas saran orang tua tas itu aku bawa lagi dan dengan motor aku kejar bus yang aku tumpangi tadi, aku berharap bisa mengejarnya karena menjelang tahun baru di semarang tadi jalanan macet.
Di jalanan aku dapat ide untuk menghubungi saja kantor pusat bus tadi karena setahuku dan juga tertulis di karcis alamat bus itu di kota Salatiga, aku harap orang di kantor bus bersedia menelpon sang sopir agar berhenti dan aku bisa mengejarnya.
Aku kecewa berat karena bus yang aku tumpangi tadi ternyata bukan berkantor di Salatiga (walau satu perusahaan) dan mereka menyarankanku menyusulnya di SPBU luar kota Salatiga karena jadwalnya mengisi solar di sana. Sedikit berlagak jagoan di film action aku tancap gas lagi mengejar bus ke SPBU yang ditunjukan tadi, tak seperti di Semarang jalan di sini begitu lancer tapi aku tetap bersemangat mengejar bus tadi. Benar saja ada tiga bus mengisi solar di sana, satu bus menghadap arah solo, dua bus menghadap arah Semarang. Bus yang kea rah Solo hamper berjalan tapi syukurlah mau berhenti ketika aku stop. Tambah mirip saja adegan di film, aku naik bus kuperiksa bagasi atas sambil berusaha mengenali wajah penumpangnya, layaknya jagoan menghentikan bus hendak menangkap teroris dalam bus itu. (pinginnya tangan kanan pegang pistol, dan tangan kiri menunjukan lencana FBI…ih norak !)
Astaga! tak satupun wajah penumpang aku kenali, lain sama sekali. Meski tak bertegur sapa tapi aku cukup bisa merekam orang yang tadi duduk di kanan kiriku maupun di depanku, tap celaka wajah mereka lain semua, begitupun bagasi tempat aku tadi menaruh tas tak ada tas di sana! “ Maaf ada yang tasnya tertukar dengan tas saya?” tanyaku membuyarkan kebingungan para penumpang. “wah tadi duduk dimana?”, “Tadi naik bus apa?”…. ribut mereka bersahutan setelah mengetahui orang yang berlagak jagoan menghentikan bus mereka ternyata hanyalah orang linglung salah masuk kendaraan. Aku menahan malu turun dan minta maaf.
Plan A dan Plan B gagal tinggalah Plan C dan D, aku kejar lagi bus itu sampai Solo jelas tak mungkin karena aku baru sadar ternyata tak membawa dompet, SIM dan STNK. Kembali ke kantor bus dan menyerahkan tas itu belum tentu ada jaminan tas itu sampai ke pemilik begitupun ke kantor polisi. Tinggalah rencana D yaitu pulang ke rumah sambil berharap orang yang tertukar tasnya menghubungiku. Aku ingat benar dalam tasku ada fotocopy passport dan tiket bus untuk kembali ke Jakarta, di keduanya ada nama dan nomor HPku. Sementara itu tas yang aku pegang tak ada selembarpun identitasnya.
Singkat cerita setelah hamper satu jam menunggu telponpun berdering dan legalah aku karena tas kami bisa kembali esok harinya, dengan janjian ketemu di terminal bus Kartosura.
Kejadian seperti ini bisa menimpa siapapun dan untunglah ada identitas di tasku sehingga bisa terlacak pemilik tas itu. Kalau tidak kita bias bayangkan sendiri. Tas yang kita pakai sebagian besar adalah produksi masal atau kadang dengan model hampir sama karena itu kemungkinan tertukar di tempat umum pastilah ada peluangnya, karena itu dengan adanya identitas pada tas itu ada harapan tas yang tertukar atau ketinggalan bisa kembali.
Sekedar tip tambahan jika kita pergi dengan pesawat ada baiknya tambahkan tanda mencolok pada tas kita baik itu stiker, ataupun ikatan pita unik sehingga mudah dikenali ketika harus mengambilnya dari konveyor. Untuk tempelan stiker ada baiknya minimal di tiga sisi sehingga apabila tas tersebut terguling masih terlihat stiker di sisi yang lain.
Anda ada tips lain soal tas untuk bepergian? mari kita berbagi….
Arti sebuah nama
William Shakespeare mengatakan “what is the name?” apalah arti sebuah nama? Boleh saja Shakespeare menafikan arti sebuah nama. Emas mau dibilang apa saja gold, aurum atau apa saja tetaplah suatu benda yang berharga, bahkan kalau dulu orang sepakat menamainya ‘mentho’ tetap saja menjadi benda yang berharga tinggi.
Anda beda pendapat soal arti sebuah nama? Boleh saja, karena sayapun termasuk penganut ‘mazhab’ ini. Bagi saya nama adalah identitas penting, yang berkaitan dengan si pemilik nama, apalagi nama orang.
Orang jawa biasanya memberi nama anaknya dengan arti tertentu, yang menjadi pengharapan orang tua agar sang anak memiliki sifat/ karater atau menjadi seperti nama anak tersebut. ‘Budiono’ misalnya tentu orang tua menginginkan agar anaknya menjadi orang yang berbudi pekerti yang baik, demikian juga ‘Sri Mulyani’ diberikan nama demikian agar si anak nanti menjadi wanita yang mulia.
Terkadang nama juga diberikan dengan maksud mendapat karakter dari sifat pemilik nama itu, misalnya ‘Candra’ orang tua memberikan nama tesebut agar sang anak menjadi penerang dalam kegelapan bagi sekitarnya seperti candra (rembulan), demikian juga ‘Bibit’ dengan nama tersebut sang anak diharapkan menjadi seorang yang cikal bakal, pionir dalam hal kebaikan.
Ada juga orang tua memberi nama anaknya berkaitan dengan peristiwa yang terjadi ketika anak itu lahir. Adik ipar saya bernama ‘Nanang Angkat Purwanto’, kata Angkat sebagai kenangan ketika anak itu lahir sang ibu berhasil diangkat menjadi pegawai negeri, begitupun nama tetangga karena lahir saat Reformasi maka anaknyapun dinamai ‘Reformi’. Dulu kakak saya mempunyai teman bernama ‘Boing’, waktu itu dia mengaku karena ia lahir saat ibunya naik pesawat Boing, namun selidik punya selidik ternyata Boing berasal dari kata Rebo Pahing, yaitu hari Rabu dan hari pasaran Pahing, saat kelahiranya.
Karena nama mengandung suatu arti dan harapan, semacam visi dan misi, maka sebagian orang tua percaya kalau anak menjadi nakal atau sering sakit sakitan itu tandanya sang anak tak kuat memanggul beban namanya, atau kurang cocok mendapat nama itu karena itu harus diganti. Anrea Hirata penulis novel laris Laskar Pelangi, dalam Tetraloginya mengaku harus berganti ganti nama hingga tiga kali karena kebadungannya waktu kecil. Mungkin atas alasan ini pula Bank Century kemudian berganti nama menjadi Bank Mutiara.
Berapa daerah lain nama orang sebagai identitas keluarga, karena itu mereka menyertakan nama keluarga (marga) pada anaknya, baik di belakang maupun di depan namanya. Andy Malarangeng, Abdurrahman Wahid, Liem Su Liong, A Peng dsb.
Jika di Bali nama anak menunjukan urutan lahir di keluarga seperti Wayan nama anak pertama, Made anak kedua, Nyoman anak ketiga dan Ketut anak ke empat, orang tua saya memilih mengurutkan nama awal kami anak-anaknya berutan sesuai abjad, pada huruf depan nama kami, A, B, C, D dan E. Sangat mudah ditebak urutan keberapa saya lahir, karena nama saya Diandono Kuncoro Yoga.
Nama saya cukup unik, kurang lazim, karena itu setiap berkenalan saya selalu harus mengulang ketika manyebut nama depan saya. Padahal nama Dian cukup pasaran demikian pula Dono, tapi kenapa ketika digabung menjadi sulit dihafal, bahkan sekedar untuk diucapkan. Bukti lain keunikan nama saya, cobalah ketik nama itu di mesin pencari, semacam google, sejauh ini saya hanya menemukan 2 orang (selain saya) memakai nama Diandono di dunia ini! Itupun bukan nama depan.(jaile…, jadi nyombong deh).
Memiliki nama unik awalnya sedikit kurang pede, setiap kenalan harus mengulang bahkan mengeja nama, di lingkungan baru selalu belakangan dikenal (karena sulit dihafal) dsb. Tapi hikmahnya menyandang nama unik ternyata ketika saya butuh account untuk membuat e-mail, nama blog dsb tak pernah ditolak karena nama itu belum dipakai orang dibelahan dunia manapun. Seorang teman harus mengotak atik namanya dikombinasi dengan angka, digabung nama anaknya dan segala macam untuk sekedar memiliki nama unik guna mendaftar user name.
Nama saya yang panjang kadang tak muat ketika mengisi formulir yang sudah ditentukan jumlah karakternya. Soal nama yang panjang teman saya bahkan pernah diprotes anaknya .Disaat sang anak mengikuti ujian dengan lembar jawaban system komputerisasi, sang anak menjadi bingung teman-temannya sudah mulai mengerjakan soal sementara dia belum selesai menghitamkan bulatan-bulatan kosong satu per satu rangkaian huruf namanya yang panjang itu.
Kesulitan lain berkaiatan dengan nama saya adalah mengisi formulir yang menayakan first name dan last name, kan nama saya tiga kata…
Belum lagi kalau formulir itu menanyakan family name. Beberapa Negara menganggap nama depan sebagai family name dan nama asli yang ada dibelakang.
Soal nama pangilan, kebanyakan orang senang dengan panggilan singkat, karena itu adalah wajar bila orangpun memotong nama saya agar gampang diucapkan. Di sini saya menikmati keunikan nama saya, karena tanpa sengaja. dari cara seorang teman memanggil dengan mudah saya bisa mengkelompokan dari komunitas mana saya berkenalan dengannya. Dian adalah panggilan saya di komunitas pengajian, juga keluarga istri, Dono adalah panggilan saya dari teman di kantor, sementara itu kalau ada yang menggil Kuncoro saya pastikan adalah teman ketika diklat awal masuk kantor dulu, dan Yoga, satu-satunya teman yang memanggil dengan nama ini adalah Olis yang kesulitan membaca nama panjang saya sehingga praktisnya dia ambil kata paling belakang. Ada juga yang memanggil saya Kaiye, bukan nama Jepang, ini sebenarnya huruf KY singkatan nama belakang saya yang dilafalkan. Nah kalau yang memanggil Kaiye ini ada dua kemungkinan pertama teman SMP dulu, atau teman kost ketika saya kuliah di Semarang dulu. Dan kalau mereka yang memanggil lengkap Diandono biasanya yang berkenalan secara formal dan belum memiliki kedekatan pribadi.
Diantara panggilan itu, panggilan Dono yang sedikit kurang saya suka pada awalnya. Dono adalah nama artis komedi di era 90-an dari trio Warkop, saya kurang suka nama itu karena seolah kedengaran memposisikan saya sebagai komedian yang hidupnya untuk ditertawakan, lagi pula saya tak suka lawakan Dono Warkop yang di film seringnya nyrempet-nyrempet porno aksi.
Kembali soal arti sebuah nama, Diandono Kuncoro Yoga, kurang lebih berarti anak laki-laki yang menonjol (dikenal) karena memberi cahaya. Ya itulah harapan dan pesan orang tua saya yang mesti saya emban seumur hidup dengan nama itu. Mampukah saya menjadi ‘dian’(lampu penerang) bagi masyarakat? Jika belum mampu setidaknya saya tak ingin memadamkan sesuatu yang sudah menerangi masyarakat .
Anda punya pandangan lain soal nama? Senang sekali bila anda mau berbagi pandangan, atau tradisi nama orang dari daerah anda…..
Pelajaran dari Kota Shenzhen (2)
Semula kesanku terhadap negara China begitu runyam, betapa China adalah negara yang terbelakang, penduduk yang curang, pemerintah yang suka menindas, anti demokrasi, kaku dan masih saja terngiang kalau China adalah negara yang baru saja membantai warga muslimnya di Uighur, membungkam demonstran dengan muntahan peluru di lapangan Tiananmen Beijing. Ingatanku pada pelajaran sejarah tentang dukungan negeri ini terhadap Partai Komunis Indonesia belum hilang. Akupun masih ingat betapa budaya China yang ada di Indonesiapun pernah dibekukan di negeri ini, sebagaimana bekunya hubungan diplomatic antara RI dan RRC. (presiden Gus Dur lah yang membolehkan lagi adanya perayaan Imlek, tarian Barongsai dsb) Karena kesan itulah aku kurang bersemangat ketika harus pergi ke negeri itu.
Aku terbang menggunakan China Air, yang pramugarinya memang (atau kebetulan) pelit tersenyum sehingga kesanku tentang kejudesan China belum hilang , hingga mendaratlah kami (aku bersama seorang teman sekantor) di Hongkong kami begitu terkejut karena mendapati banyak keramahan, Bandar udara yang modern, tak ada porter dan sopir taxi yang berebut menawarkan jasa, pelayanan petugas yang cepat, ruang tunggu yang nyaman, toilet yang bersih dan bahkan dengan kartu telepon (‘hadiah’ dari money changer) ada fasilitas petunjuk dalam bahasa Indonesia ketika aku memutar kode sambungan ke Indonesia!
Ketika melanjutkan perjalanan dengan naik ferry ke pelabuhan Seko akupun masih terheran heran melihat China tak sejelek yang aku duga, kapal ferry yang bersih ber AC dengan sabuk pengaman di tiap bangku, pelampung di tiap kursi berikut petunjuk cara pemakaiannya (ada gambar dan English versionya).
Mungkin karena aku dulu penggemar film kungfu (dan juga memang pernah ikut berlatih kungfu shaolin) sehingga bayanganku tentang negara China pastilah China tradisional., karenanya aku sangat terheran heran melihat kota Shenzhen yang begitu modern (seperti tulisan saya sebelumnya). Kalau saja tak ada bendera, lampu lampion dan petunjuk jalan dalam huruf China, tentu aku sulit percaya aku aku benar-benar sedang berada di negerinya Sun Go Kong atau Justice Bo (film favoritku dulu )
Tak ku duga kutemui kehidupan kapitalis di negeri komunis, betapa gedung-gedung saling menonjolkan diri unjuk kemegahan, mobil-mobil gaya eropa ciri khas kaum borjouis, tak ada Jialing, fukuda, tossa dan motor motor china lain seperti yang mereka jual ke Indonesia (karena sepeda motor dilarang di kota ini).
Diantara benturan-benturan keherannku terhadap apa yang aku lihat, kucoba mencari penjelasan logis dari semua itu. Bagaimana mungkin Negara komunis dengan segala stigma jeleknya, bisa memiliki kota yang begitu mengesankan ini?
China memang dulu sempat menjadi negara miskin yang harus berjuang menghidupi milyaran warganya, begitu besar hutang negeri ini kepada Uni Soviet (Rusia) waktu itu. Sebuah cerita ,yang aku lupa sumbernya, mengatakan pemimpin Uni Soviet waktu itu pernah meledek dengan mengatkan, “China tak akan sanggup membayar hutangnya pada Uni Soviet walaupun sampai celana dalam satu harus dipakai bergantian oleh dua orang China”. Hinaan ini oleh pemerintah sengaja di sebarkan kepada seluruh warga China sehingga marahlah mereka. Kemarahan dikelola dengan baik menjadi semangat perlawan dan tindakan nyata, pemimpin Mao memerintahkan setiap keluarga menyumbangkan berasnya setiap jiwa satu butir beras setiap hari disetor ke Negara untuk membayar hutang kepada Uni Soviet. Bisa dibayangkan kalau warganya waktu itu satu milyar, berarti setiap hari terkumpul satu milyar butir beras, berapa beras terkumpul tiap minggu, tiap bulan dan seterusnya…. Singkat cerita Chinapun akhirnya mampu membayar hutangnya dalam waktu yang relatif singkat.

Etnis china memang pekerja keras dan tahan penderitaan, perjuangan adalah nafasnya. Bayangkan dari cara makan saja mereka sudah biasa berjuang. Makan pakai sumpit adalah cara makan yang ribet, sumpit mereka begitu langsing di ujungnya, secara logika enakan pakai tangan langsung, jelas,ada lima jari yang secara simultan kompak meraup makanan dari lima sisi, kalau dengan sumpit kan cuma jepitan dua arah (haiya..,..sulit sekali mereka makan) padahal mereka ada sendok juga buat makan kuahnya.
Tulisan Cina minta ampun rumitnya, dalam tulisan tradisional (hanzi) tiap huruf melambangkan satu makna (mirip kanjinya jepang) betapa sulit mata sipit mereka harus melototin perbedaan tiap coretanya. Tapi inilah justru bentuk latihan perjuangan dari hal-hal sepele dan harus dilakukan sehari-hari
Begitupun dalam berlatih kungfu, tak ada yang instant dalam latihan ini. Lompatan salto adalah buah dari latihan panjang kekuatan kaki, kelenturan sendi dan teknik pendaratan yang akurat. Tendangan kaki lurus ke atas adalah buah dari rangkaian panjang peregangan otot kaki sedikit demi sedikit hingga didapat gerakan sendi yang maksimal. Sekedar informasi saja kawan, dalam latihan kungfu kita perlu waktu berbulan-bulan sekedar untuk latihan senam pembukaan, belum sampai jurus, apalagi penggunaan senjata!
Tahu tembok besar china bukan? Tembok setinggi 8 meter, lebar bawah 8 meter, lebar atas 5 meter dan sepanjang 6.400 km itu buah kerja keras ratusan tahun dan berkesinambungan. Bagaimana mungkin mereka bisa tekun memagari negaranya (bukan hanya istana raja!) melingkar meliuk-liuk mengikuti kontur gunung yang mereka lalui. untuk melindungi mereka dari serangan bangsa Mongol. Sungguh luar biasa! Cobalah kita pikirkan proyek sebesar itu untuk teknologi jaman itu, berarti mereka harus membuat berapa banyak batu bata, berapa banyak pasir, berapa banyak batu kali mereka harus kumpulkan, berapa juta kubik tanah harus mereka taruh untuk mengisi bagaian dalam banteng itu? Bagaimana mereka harus mengangkutnya hingga ke atas gunung-gunung material sebanyak itu? Bagaimana pula logistic para pekerjanya? Banyak pertanyaan tapi ada satu kesimpulan : Jelaslah ini hasil dari kerja keras dan ketekunan!
Suka lihat parade militer? Lihatlah bagaimana angkatan bersenjata China berbaris dilihat dari sudut manapun mereka begitu rapi berjejer, badan tegap padangan lurus ke depan begitu menawan disaksikan, eit tunggu dulu, inipun hasil latihan panjang mereka. Dibelakang punggung mereka dilatih dengan kayu berbentuk ‘t’ seperti saliblah, di selipkan disabuk belakang hingga badan mereka tetap tegak, dan ada plastic runcing kecil dipasang di kerah baju mereka, dileher depan sehingga mereka mau tak mau harus selalu mendongak memandang lurus ke depan, kalau coba-coba bandel menunduk ketusuklah leher mereka, walau tak sampai melukai. Pelajaran moral pertama yang aku dapat adalah Kerja keras dan perjuangan salah satu kunci kesuksesan mereka
Melihat dari rekam jejak sejarah dan budaya mereka, kini aku jadi maklum kalau mereka mampu menyulap daerah bergunung-gunung menjadi kota datar dan modern. Kawasan ekonomi khusus dengan liberalisasi ekonomi itu kini telah membangunkan kekuatan baru di Asia. Kota Shenzhen hanyalah satu kepingan dari mozaik besar kemajuan Negara tirai bamboo itu. Betapa produk China kini sudah mampu membanjiri pasar global dari barang sederhana hingga teknologi luar angkasa. (satelit Palapa kita, belum lama inipun diterbangkan dengan roket bikinan China). China kini semakin kukuh memposisikan diri sebagai kekuatan yang pantas diperhitungkan. Amerika mulai ketakutan terhadap kekuatan ekonomi negeri berpenduduk terbanyak di dunia ini, hingga sang paman Sam terkesan mulai memproteksi diri terhadap serbuan barang bikinan China.
Banyak pihak mulai meramalkan China, salah satu negara pimilik hak veto di PBB ini, bakal menjadi Negara adi kuasa baru. China mulai diperhitungkan sebagai kekuatan yang layak dierhitungkan, sukses mereka sebagai penyelenggara olimpiade tahun lalu sanagat mengejutkan banyak pihak. Semula orang memprediksi akan adanya demo yang besar terhadap pelaksanaan even akbar di negara pelanggar HAM tersebut. Bahkan ada yang sampai memprediksi China bakal bangkrut dengan mengajukan diri sebagai tuan rumah pesta olah raga terbesar sejagat itu. Tapi ternyata justru terjadi sebaliknya, ajang olah raga yang jadi perhatian seantero dunia itu berhasil mereka manfaatkan sebagai promosi besar Negara itu. Pesta pembukaan yang megah, jaminan keamanan, fasilitas olah raga dan penginapan yang baik menjadi magnet besar mengundang banyak orang, tidak saja segai atlet, supporter dan wartawan, wisata wan ke tempat lain pun meningkat.
Tak saja sukses di even olah raga, membanjirnya produk China menginfasi banyak negara bukti kekuatan ekonomi yang mengagumkan, dalam bidang militerpun China sukses membuat pesawat tempur sendiri, bidang seni dan budaya jelas mereka sulit di sepelekan, dan sekali lagi, semoga anda tidak bosan, ini juga hasil kerja keras…..
Tak perlu saya simpulkan di sini, karena kita semua tahu kalau kita ingin sukses kerja keras dan ketekunan adalah jawabnya.. Xie xie!
PELAJARAN DARI KOTA SHENZHEN (1)
Sebagian umat Islam pasti mengenal nasehat “Tuntutlah ilmu walau harus sampai ke Cina” (saya sengaja tidak mengatakan sebagai hadits, karena sebagian ulama memasukan sebagai hadits dhoif). Ini adalah nasehat secara umum sebenarnya tentang anjuran untuk bersemangat dalam mencari ilmu, namun jika melihat kekhususan menyebut negeri Cina, maka ada keunikan tersendiri tentang disebutnya negeri Cina ini, bisa jadi memang Cina sejak dulu telah maju dalam hal peradaban, mungkin juga karena letaknya yang secara geografis memang jauh dari asal nasehat ini dikeluarkan (Arab).
Sehabis ramadhan kemarin ketika sebagian masyarakat Indonesia merayakan lebaran dengan pulang ke kampong halaman, saya berkesempatan mengunjungi negeri Cina, kota Shenzhen tepatnya, pulang kampung juga? Bukan, sungkeman juga bukan, kebetulan ada pekerjaan yang harus saya lakukan di kota ini ketika umat Islam ramai merayakan lebaran bersama keuarga. Dengan semangat mengamalkan nasehat mencari ilmu walau sampai ke Cina, itulah saya berusaha mencari ‘pelajaran’ dari negeri berpenduduk 2 milyar ini.
Kota Zona Ekonomi khusus
Shenzhen terletak di provinsi Guangdong, berada di bagian Tenggara negeri Cina dan berbatasan langsung dengan Hongkong. Kota dengan luas 2.020 kilometer persegi (sekitar tiga kali luas kota Jakarta) ini merupakan satu dari lima kawasan ekonomi khusus di Cina, (kota lain yaitu Zhuhai dan Shantou dipropinsi Guangdong, Xiamen dipropinsi Fujian serta seluruh propinsi Hainan). Di kota ini perusahaan teknologi tinggi dan berorientasi ekspor mendapat berbagai kemudahan dan keringanan pajak. Tak heran kalau pertumbuhan ekonomi di kota ini begitu fantastis bahkan konon merupakan kota yang tumbuh tercepat di seantero jagat.
Berkeliling kota Shenzhen akan melulu terlihat gedung-gedung menjulang, jalanan mulus dan tidak macet, mobil-mobil mewah, bus kota yang nyaman, kereta api bawah tanah (sub way) yang menjangkau seluruh kota, atau sepeda (listrik) yang berseliweran dan diberi jalur khusus dibeberapa tempat. Sepeda motor dilarang di kota ini, karena itu warga mengakalinya dengan naik sepeda listrik. Ojeknyapun memakai sepeda listrik kalau tidak sepeda ‘ontel’. Tidak terlihat polisi mengatur lalu lintas di jalan, tapi kamera pengintai tersebar di banyak tepat dan fasiltas umum. Tak akan kita temui mobil butut di kota ini, karena pemerintah membatasi usia kendaraan tak lebih dari sebelas tahun saja.
Saya sangat terkesan dengan trotoar di kota ini, begitu lebar dengan pohon-pohon besar yang menaungi bahkan dibeberapa tempat bisa sampai tiga shaf (di Jakarta paling satu pohon berderet di antara jalan dan trotoar), alangkah ‘ademnya’ berjalan kaki di sini, bahkan jembatan penyebrang yang saya temuipun dilengkapi dengan escalator, persis dengan fasilitas di mall atau toserba di tanah air. Taman taman pinggir jalan juga luas dan asri, mengingatkan saya pada taman-taman pinggir jalan di Bumi Serpong Damai (BSD) Tangerang sebelum diambil alih oleh gruoup Sinar Mas.
Lingkungan yang begitu asri bisa jadi sebagai kompensasi karena orang-orang di Shenzen tidak tinggal di rumah dengan halaman dan pepohonan di halaman, tapi mereka merupakan penghuni apartemen-apartemen yang tersebar di seluruh kota dengan variasi ukuran dan harga sewa. Apartemen tersedia dari luasan 30 meter persegi hingga lebih dari 150 meter persegi, dari kelas yang jendela saja susah dibuka hingga kelas elit.
Menjelajahi kota Shenzhen tak saya temui selokan menganga di sana, saluran air begitu rapi tersembuyi di bawah jalanan atau trotoar . Papan reklame berdiri rapi kadang seolah hiasan pemanis halte di pinggir jalan. Pamphlet liar yang asal tempel semisal dipagar, tiang listrik atau di pohon juga tak terlihat di sini, (apalagi foto-foto narsis tokoh politik agar terpilih dalam pilkada).
Yang menarik dari tata kota Shenzhen adalah pengelompokan bangunannya, di sini ada Zona Perdagangan Bebas Shenzhen ( Shenzhen Free Trade Zone) dan Kawasan Industri Teknologi Tinggi ( Shenzhen High-Tech Industrial Park). Perguruan Tinggi pun terkumpul dalam satu kawasan besar. Sebanyak 8 (delapan) perguruan tinggi terkumpul di kawasan ini, sehingga mereka bisa saling berbagi dalam penyediaan fasilitas mahasiswa seperti kolam renang, aula, gedung olah raga, asrama mahasiswa, taman dll. Sekali lagi lingkungan asri menghiasi kawasan ini, taman tertata rapi dilengkapi dengan danau yang banyak sekali ikanya. Kawasan ini mudah dijangkau karena adanya bus kampus dan stasiun kereta bawah tanah (dalam penyelesaian).
Tak lengkap rasanya kalau kunjungan ke Cina tak bercerita tentang barang elektronik Cina yang terkenal murah meriah. Jika ingin mencari elektronik di Shenzhen Hua Qiang Bei lah tempatnya. Di kawasan ini tersedia dari spare part hingga produk jadi, seperti computer, laptop, hand phone, digital camera dan banyak lagi sampai produk elektronik yang aneh-aneh, seperti lampu senter dengan solar cell, ballpoint berkamera, alat pendengar suara jarak jauh dilengkapi teropong dsb. Barang palsupun banyak sekali dijual disini, seperti jiplakan, laptop, black berry, HP dari merk ternama dengan harga bisa seperlima dari barang aslinya! Soal garansi ketika saya tanyakan, sipenjual memberikan kartu nama (dalam tulisan cina tentu saja) dan mengatakan “kalau ada masalah hubungi saja ini…” (Ya repot dong kalau bermasalahnya setelah dibawa ke tanah air, apalagi baca kartu namanyapun tak tahu saya, mana nama, mana alamat dsb ??#*?!).
Berjalan di Hua Qiang Bei ini mirip banget dengan suasana glodok di Jakarta. Hiruk pikuknya, macam barang dangangan, sampai tampang penjualnyapun bagai pinang dibelah dua didepan cermin pula, dengan penjual diglodok atau Mangga dua Jakarta. Mungkin bedanya hanya, kalau ditempat ini penjual dan pembeli yang sama-sama bermuka oriental. Dan satu hal lagi bedanya.. (kali ini saya sedikit bangga) kalau di Glodok bolak-balik saya ke sana merasa aman membawa uang berapa pun tapi di sini saya menemukan seorang pencopet yang tertangkap dan sedang dikerumuni massa.. ( Stt.. konon di glodok para pencopet dan preman sudah dipegang pentolanya agar tidak beroprasi di sana supaya para pedagang bebas bertransaksi dan ramai pembeli).
Transportasi umum di Shenzhen sangat mengesankan, seminggu di Shenzhen tak satupun saya lihat bis kota jelek, semuanya bagus sekelas bus way atau bus VIP antar kota antar propinsi di Jakarta. Tak ada yang kernet berteriak-teriak, karena rute Bus jelas tertulis di depan bus dan di haltepun ada daftar rute bus kota yang lewat di jalan itu (tapi dalam tulisan cina tentu saja) selain itu buspun berjalan dalam keadaan pintu tertutup. Tak ada angkot di sini, pilihan kendaraan umum yaitu bus, kereta, taxi atau ojek sepeda (listrik). Kereta api bawah tanah (sub way) juga sangat nyaman, kereta ber AC, system tiket elektronik, dan frekuensi perjalanan yang banyak. Pembelian tiket bias manual bias juga otomatis dengan memasukan uang (kertas ataupun koin) ke dalam alat khusus dan keluarlah tiket kereta berujud koin plastic (mungkin dengan chip atau magnetic) yang berguna untuk membuka pintu masuk ke stasiun, tak ada pemeriksaan diatas kereta tapi kita tak mungkin masuk bila tak punya tiket. Di dalam kereta dengan jelas ada petunjuk sampai dimana kereta berjalan serta ada running text tempat pemberhentian selanjutnya (mirip di bus way lah..).
Saya begitu penasaran bagaimana mungkin kota besar bisa dengan mudah diatur seperti itu. Setelah bertanya, ternyata kota ini dulunya bukit-bukit yang diratakan dan tanahnya dipakai untuk menguruk laut, sehingga menambah daerah daratan, pantas saja mereka membangun kota berawal dari tanah tanah kosong, dan pemerintah yang ‘galak’ sehingga mudah dalam membuat master plan. Jangan bandingkan dengan Jakarta yang dibangun harus dengan susah payah menggusur rumah warga, kadang terbentur dengan cagar budaya, tanah makam dan sebagainya. Tanah perbukitan asli masih mudah di temui di pinggiran Hongkong, bentuk bukitnya begitu terjal dan tidak besar sehingga memang sulit untuk mendirikan bangunan di atasnya. Sambil mengendarai Honda jazznya Eric menceritakan kalau jalanan yang kami lalui saat itupun dahulunya wilayah laut yang telah diurug, dan kamipun juga diajak ke tempat (maaf saya sulit mengingat namanya, dalam bahasa Cina ) yang artinya kurang lebih ‘world on the sea’, di sana masih ada kapal asli terjebak di daratan, padahal tempat itu dulunya laut, sedikit air masih disisakan sekitar kapal itu bau amis lautpun masih tercium di airnya, kapal yang dulunya pernah terbakar itu telah direnovasi ulang dan sekarang dijadikan restorant dan tempat untuk wisata.
Kontrol Pajak
Semula saya begitu heran setiap kali habis membayar makan di restoran selalu teman cina saya mendapat semacam kupon dengan nilai nominal tertentu, semula saya kira bentuk kembalian uang dalam wujud lain (he..he..dasar katrok!). Menurut Eric Chai (25 th) warga asli Shenzhen ini, ‘kupon’ tersebut nantinya untuk ditukarkan kepada pemerintah dengan uang senilai nominal yang tertulis di situ. Rupanya di sini pajak (PPN) tidak dibebankan ke pembeli tapi murni kewajiban penjual dengan cara setiap belanja pembeli mendapat ‘kupon’ yang ditukar ke pemerintah dan mendapat uang cash, sedangkan pemerintah ganti meminta uang kepada restoran tadi sebagai tagihan pajaknya. Menarik sekali cara ini, pembeli menukarkan kupon dan mendapat uang, secara otomatis berarti telah melaporkan kewajiban pajak bagi penjual sebesar nilai yang tertulis di ‘kupon’. Pemerintahpun gampang menagih pajak kepada penjual karena mendapat laporan dari warga, pelapor bersemangat melaporkan nominal pajak yang harus dibayar penjual, karena langsung memperoleh reward.
Saatnya Kembali Fitri (Jangan kalah sama ulat bulu)
Sebulan sudah umat Islam menjalani ibadah puasa. Ibadah yang tidak saja diajarkan kepada umat Islam tetapi juga umat agama lain seperti puasa makan daging, puada makanan kesukaan, puasa hari-hari tertentu, nyepi dan sebagainya.
Puasa memang berdampak positif kepada fungsi biologis manusia ketika berpuasa terjadi proses detoksinasi, penyeimbangan baru sistem metabolisme dalam tubuh manusia. Karena itu tak heran tumbuhan dan binatangpun merasa perlu melakukan puasa ini. Ada saatnya tumbuhan menggugurkan daunnya untuk mengurangi produksi makananya, seekor ayam berpuasa selama mengerami telurnya untuk menaikan suhu tubuhnya agar dapat menetaskan telornya, ular berpuasa untuk mendapatka kulit barunya, dan ulat berpuasa agar sempurna dalam bermetamorfosa.
Ibarat mesin puasa adalah saat dimana suatu sistem perlu di shut down untuk maintenance, pelumasan bagian yang bergesekan, penggantian suku cadang aus, dan juga setting ulang agar dapat berkerja lebih optimal. Ibarat suatu komputer yang perlu disk clean up, def-rag, antivirus dan juga penambalan sistem yang termakan oleh virus.
Kini sudah sebulan penuh puasa, ada baiknya kita belajar dari puasanya si ulat bulu. Sebelum berpuasa dia adalah seekor monster bertampang seram, tak enak dilihat, menjiikan,melahap semua daun merugikan pohon dan petani. Namun setelah berpuasa jadilah dia menjadi makhluk yang baru yang indah dilihat, bersayap cantik terbang indah kian kemari membantu penyerbukan bunga dan perkembangbiakan si pohon. Terbangnya saja dapat menyenangkan anak-anak sehingga suka mengejarnya, kehadiranya ditunggu para bunga agar dapat menjadi buah dan memberi manfaat bagi penanamnya.
Adalah pilihan bagi kita apakah setelah berhaus dahaga berjam-jam sepanjang bulan kita tetap sama saja atau belajar dari sang kupu-kupu yangkemudian menjadi makhluk baru yang bermanfaat bagi sekitar. Pilihan ada pada kita
Ada saatnya lisan salah mengucap
Ada saatnya hati salah menduga
Ada saatnya mata salah melihat
Ada saatnya kita salah prasangka
Dan..kini saatnya kita perbaiki semua itu
Kesalahan adalah suatu yang tidak kita sukai
Kesalahan adalah suatu yang bisa diperbaiki
Sungguh indah kehidupan bila kita bisa saling memaafkan
dengan segala keikhlasan dan kerendahan hati….
Mohon maaf segala salah dan khilaf.
Mari bersama perbaiki diri kembali manusia yang fitri


